Kamis, 11 Januari 2018

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.


Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dari suami, saya memutuskan untuk fokus pada perkembangan anak kami. Merawat sendiri mereka ber-4 tanpa bantuan pengasuh anak. Berhenti dari karir yang berada di peak experience adalah satu solusi ketika jalan rizki menghantarkan kami entah kemana. 3 tahun dengan 3 tempat tinggal berbeda. Beragam penyesuaian dan dilema. Allah Maha Baik, meridhoi saya yang ingin bisa tetap berbagi ilmu. 4 Buku, solo dan seri antologi telah berhasil saya tulis dengan berseragam daster sang emak. Di tahun 2017, saya mendapat rizki mengampu 3 mata kuliah di salah satu kampus swasta di kota ini. Tugas ini memberi saya metime di penghujung minggu bertemu dengan mahasiswa dan kolega saya di kampus. Perjalanan berbagi ilmupun tetap bisa saya lakukan sebagai tenaga suka rela bidang psikososial di PMI. Semua atas karunia Allah, suami dan keluarga yang selalu mensupport serta anak-anak yang  sehat dan ceria. Kebahagiaan semakin lengkap dengan hadirnya sahabat yang menyertai di saat susah maupun senang. Persahabatan kami tak berjarak, dimanapun dan kapapun selalu bisa membuat saya tersenyum. Lalu,



Q.S Arrahman
Sumber : Google
Menjadi  Ibu yang mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak bukanlah sebuah ketidaksuksesan. Ini adalah sebuah definisi sukses “uniq” yang bermerek “Saya”. Bentuknya bisa macam-macam. Tidak melulu dimiliki oleh mereka sang Ibu yang tinggal di rumah, bukan pula oleh ibu yang berkarier di luar rumah.  Hanya satu yang menjadi penjaganya, yaitu “Bahagia”.

Yup, bahagia bagi seorang ibu itu penting. Lalu apa sih bahagia itu? Silahkan di jawab sendiri.
Bagi saya, sukses tidak memiliki ukuran pasti.
Setiap orang berhak membuat skala dan perbandingannya sendiri.
Sukses itupun sebetulnya sederhanya. Cukupkanlah ia dengan rasa bahagia dan senyum indah yang engkau miliki.

Di sini, saya ingin membagi sebuah lirik lagu lawas yang bermakna sangat dalam. Dalam perjalanan menuju ke sekolah untuk menjemput anak, iseng saya menjajal sebuah cd lagu yang tersimpan di dashboard mobil baru ini. Catatan, mobil baru ini bukan punya saya, kebetulan saya dipinjamin untuk beberapa hari (bukan bermaksud riya ya, lha wong minjem kok riya, hehehe.

Ternyata cd ini adalah kompilasi lagu Koesplus. Nyanyian mereka mengiringi perjalanan saya sejauh 13 km ini. Ada sebuah lagu yang baru saya dengar.  Berikut ini judul dan  liriknya.

Jangan Iri Hati
Oleh Koes plus

Berkali-kali ku ingatkan kembali, jangan engkou turuti rasa dengki dan iri
Urus dirimu, untuk hari depanmu
Urus dirimu, untuk hari depanmu

Kalau kan tak mengerti, kau terus iri hati
Habis waktumu, dan kou tetap begitu
Kalau kan tak mengerti, kau terus iri hati
Habis waktumu, dan kou tetap begitu.

-------------------------

Bagi generasi zaman now yang belum tahu lagi ini, silahkan mencarinya via google atau  youtube.
Rasanya pas sekali dengan sebuah refleksi saya yang terangkum dalam sebuah kaleidoskop. Mengawali tahun 2018  ini, sebuah kaleidoskop 2017 pantas sekali dijadikan sebagai pondasi. Jangan iri hati, fokus pada diri sendiri.

Perjalananku di tahun 2017 penuh warna. Di rumah, ternyata banyak hal bisa kita lakukan. Membuat kita bisa menemukan hal-hal baru. Dan ini sangat menyenangkan.

Berbagi ilmu
Tinggal di rumah bukan berarti hanya mengurusi sumur kasur dan dapur. Urusan sharing ilmupun tetap bisa dilakukan. Saat ini banyak banget media dan metode yang bisa kita lakukan. Di 2017, saya bersyukur dapat tetap sharing ilmu khususnya bidang psikososial dengan beragam cara dan media. Diantaranya :
melalui media radio. Di januari 2017, saya sharing tentang manajemen stres di fit radio. Cerita lengkapnya disini
Pada komunitas Bengkel Sastra di Semarang. Saya sharing tentang Trauma dan bencana pada komunitas sastra Semarang. Saat itu saya bertemu dengan sahabat-sahabat baru baik di bidang literasi maupun penggiat psikososial di UNIKA.
menjadi dosen tidak tetap di salah satu kampus di Semarang. 

Memiliki sahabat-sahabat baru. Di semarang, saya bersyukur bisa bergabung dengan mak-mak hebat dengan beragam profesi dengan hobi yang sama yaitu menulis. Di dunia blog, saya gabung dengan group Gandjel Rel. Dikenalkan oleh sahabat, penulis kece nan geulis Dedew. Duh, ceritanya pagi ini tentang transfer uang hasil lomba menulis bikin saya termotivasi. Bersemangat untuk produktif dalam menulis ya mbak, hehehe. Sahabat saya yang lain adalah mbak Dian Nafi. Saya mendapat satu buku dari rumah produksinya (keren yaa) yang kemudian saya resensi. Salah duanya yaitu Mbak Tanti dan Mbak Nuzha, sahabat baru dari blog GR. 
Sahabat yang lain tentunya kawan-kawan PMI yang di kota Semarang. Ada mbak Wuri, Mas Bambang, Mbak Rinut. Mbak Rina, ibu-ibu dokter UTD Kota Semarang dan sahabat lainnya yang super keren.

Berkah Ramadhan 2017
Menyiapkan sendiri hidangan buka dan sahur untuk keluarga, belajar mengaji bersama komunitas perempuan muslimah, refleksi diri terus menerus, aaahhhh aku rindu Ramadhan.

Investasi kenangan  dalam balutan jalan-jalan bareng keluarga
Ketika dewasa kelak, saya ingin anak-anak saya ingat bahwa dulu ketika mereka berumur 3 tahun, si kembar pergi bersama kakak dan mama papahnya ke Bandung, naik pesawat dengan segerombol tas dan perbekalannya, mengunjungi sahabat mamahnya di sana, melihat beragam alat kerja di museum teknologi.  
Di satu masa, anak lelaki saya pernah kehilangan sandalnya pada saat mencari belut di ladang di kampung neneknya. Menikmati wisata baru di Jolong (read : baru = baru mereka datangi), dan kenangan-kenangan indah lainnya yang bisa menumbuhkan rasa bangga mereka pada diri sendiri dan keluarga.

Manusia berencana, Allah yang memutuskan
Di tahun ini, saya pun belajar bahwa kita manusia boleh berharap dan berusaha mewujudkan impian kita namun Allah jualah pemilik segalanya. Hal ini menjadi satu periode pendewasaan untuk diri saya. Salah satunya adalah harapan memiliki sebuah day care. Di tahun 2017, rencana ini belum bisa terwujud dan mungkin tahun depanpun sulit dilaksanakan. Tapi saya sudah menabung harapan itu di sini, suatu saat nanti jika Allah mengijinkan mungkin akan terwujud.
Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah
Hamba tidaklah bisa berbuat apa-apa dan tidak bisa menolak sesuatu, juga tidak bisa memiliki sesuatu selain kehendak Allah

Belajar hingga ke negeri Seberang


Saya bersyukur dan berterima kasih pada sahabat saya Mas Leo yang telah memberi kesempatan pada saya belajar  “Gender Based Violence in Emergency” di Philipina. Ini memberi saya ilmu yang tak ternilai harganya, baik dari sisi perjalanan maupun konten trainingnya. Alhamdulillah dan terima kasih mas Bro. Cerita sampingannya ada disini.

Me time
Siapa yang butuh me time? Saya!! Untuk ibu dengan anak 4 yang mengurus anaknya tanpa pembantu, liburan adalah hal yang penting. Segitu pentingnya agar si-emak tetep waras, bahkan membuatnya rutin saja sulit. Kadang lelah itu memang harus dihayati. Namun, saya beryukur, Allah memberi kesempatan saya untuk berquality me time dengan balutan penugasan TSR dari PMI dan mengajar di kampus. Sharing ilmu dapet, ketemu sahabat dan teman baru_dapet, refreshment pun dapet. Alhamdulillah.

Family is number One.


Gagasan utama dari kaleidoskop 2017 ini sebetulnya adalah keluarga. Seluruh hari-hari saya berisi tangisan dan tawa anak-anak saya. Rasa syukur atas kesehatan dan pencapaian-pencapaian mereka. Air mata yang tumpah ketika anak lelaki saya sempat hilang 3 jam dan ternyata ditemukan di rumah ketika dia memutuskan untuk berjalan kaki dari sekolah ke rumah yang berjarak 13 km, cinta kasih ibuk yang tak habisnya. Banyaaaaakkkk banget berkah yang hadir di hidup saya dari keluarga. Alhamdulillah.

Sebagai penutup tulisan tentang kaleidoskop 2017, saya beryukur pada ALLAH SWT
Tubuh yang sehat dan ilmu yang bermanfaat
Atas suami yang ganteng, sehat dan baik hati (Semoga kita selalu samara, menjemput senja berdua hingga tutup usia kita)
Atas anak-anak yang cantik-cantik, ganteng, sehat dan ceria
Atas ibuku tersayang yang sehat dan selalu menyuport saya.
Atas ibu dan bapak mertua yang sangat baik, sehat dan selalu mendoakan keluarga saya
Atas kakak dan adik-adik lelakiku yang luar biasa keren. Terima kasih atas persaudaraan kita. Dulu kita sering berantem, tapi sekarang kita sangat kompak. Alhamdulillah. Dari sini, saya memahami arti sebuah konflik masa kecil. Berantem itu normal. Jadi saya biarkan anak-anak saya mengalami fase ini. (Bisa jadi ada yang setuju dan ada yang tidak).
Atas kakak ipar dan adik ipar yang cantik-cantik dan baik, keluarga bani murjo yang kompak. Alhamdulillah
Atas  para sahabat  yang hadir dan menemani dimanapun kalian berada.
Alhamdulillah.

Jadi, apa refleksimu di tahun 2017?
Bagi di komentar ya.

5 komentar:

bman mengatakan...

Keren postingannya

antung apriana mengatakan...

tahun 2017 kemarin saya masih berantakan memanajemen waktu sebagai ibu baru. pengennya sih tahun ini lebih teratur. selamat ya, mbak atas pencapaiannya di tahun kemarin

yuliarinta mengatakan...

terima kasih bman dan mbak antung sudah berkenan mampir. mbak antung, aamiin

Nuzha mengatakan...

Alhamdulillah.. apapun itu bentuk suksesnya aku yakin mba udah sukses karena merasa bahagia dg yang mba punya sekarang :)

wuri nugraeni mengatakan...

2017 yang seru, ya, mbak

4 Hal menarik dari Sakura Collagen Anti Age’s dari PT. Meiji

Setiap perempuan pasti ingin tampil cantik di setiap kesempatan. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari perawatan tradisional maupun mo...