Jumat, 13 Oktober 2017

Air Mata





Kemarin Shafa memberiku selembar kertas yang disebutnya sebagai "uang", supaya aku tidak lagi bekerja.
Dan air matapun bersaksi.

Hari ini, sebuah pilihan yang tidak mungkin kutolak, ketika aku secara yakin membatalkan kesempatanku berbicara tentang "gender dan perlindungan anak" sedetik kutahu anakku tidak ditemukan di sekolahnya. 

Ini bukan kodrat ataupun pilihan.
Ini juga bukan memaksakan kehendak hati, namun menerima dengan ikhlas bahwa rasa cinta itu nyata.
Ini adalah rasa, tentang suatu hal yang lebih penting dari sekedar ingin yang lebih penting
Bahwa yakin, Allah adalah Maha Pengasih dan Penyayang seperti yang kuajarkan semalam pada si-anak yang "nyaris" hilang itu.

Telah habis terkuras air mataku, membayangkan segala hal buruk mungkin terjadi.
Serasa si iblis di film goblin berwajah buruk itu sedang membisiku hal yang sangat jelek.
Dan Allah Maha Baik, Dia yang memberiku dengan ujian sekaligus anugerah terindah ini.
Dan berjuta syukur terus mengalir, detik ini masih bisa kumelihat senyum manisnya.

@yuliarinta

3 komentar:

Farida mengatakan...

Innalillaahi wa inna ilayhi raajiuun..
Dan ternyata anaknya dimana?

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Semoga yang baik baik aja untuk semuanya

Wind. mengatakan...

Tetap semangat, Mbak. Ibu-ibu punya banyak pilihan sulit setiap kali.

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...