Selasa, 12 September 2017

5 Hal yang Wajib Dipersiapkan Sebelum ke Luar Negeri



Sebuah pesan masuk ke kotak whatssapp saya beberapa waktu yang lalu. 
"Yul,  minggu depan lo ada acara? " dari sebuah no name di hp.
Saya menjawabnya,  "maaf,  ini siapa ya? "
Orang di seberang menjawab satu kata, "Mr._X'". Sebuah nama yang tidak asing buat saya.  

Dia adalah teman saya di Jakarta sekaligus kepala sub divisi Dukungan Psikososial di tempatnya bekerja. Saya masih intens berkomunikasi dengannya meskipun tidak lagi bekerja di kantor yang sama dengannya. Hal itu karena kepindahan saya di kota lumpia ini. Tidak ingin kehilangan jejak keilmuan di bidang ini, akhirnya saya mendaftar sebagai relawan bidang  Psikososial di PMI Kota Semarang. 

Menjadi relawan dengan kompetensi psikososial membuat saya tetap bisa berbagi ilmu dan pengalaman melalui PMI. Beberapa penugasan telah saya terima. Yang paling terakhir yaitu memfasilitasi dukungan kelompok pada TKI Purna Bermasalah di Lombok. Penugasan-penugasan tersebut tentunya saya sambut baik. Kenapa? Karena sekali tiga uang. Selain saya bisa sharing ilmu, saya pun bisa medapatkan "liburan" sendiri. Keluar dari aktivitas rutin saya sebagai ibu di rumah. Sudah gitu, gratis lagi. Hemmm, nyaman to. 

Kembali ke telp dari Mr. X. Teman saya ini adalah orang yang to the point. Alias irit bicara meskipun tetap saja suka bercanda. Kalau tidak penting,  dia tidak akan mengirim pesan pribadi.  Paling-paling kami saling berbalas candaan di beberapa group sosial media yang kami ikuti. Jadi, ketika dia menelepon, maka saya langsung berpikir "mungkinkah ini tentang penugasan?". Hehehe, GR dulu boleh yaa.

Nah, ketika itu saya langsung menjawab, "Tidak ada.  Ada perintah, Bro?" 
Sebuah balasan langsung saya terima, "Lo ke Filipina ya,  ada kegiatan Sexual and Gender Based Violence di sana."  

Seketika saya langsung mengiyakan, mengesampingkan segudang persiapan yang harus saya lakukan jika jadi meninggalkan rumah.  Dan,  begitulah.  Rejeki itu datang pada yang berhak mendapatkannya.  Bagiku ini adalah rizki. Tidak harus selalu berupa uang,  tetapi kesempatan untuk belajar adalah salah satu rizki yang jauh lebih berharga. Saya ingat,  sudah setahun lebih saya tidak mengikuti pelatihan sebagai peserta.  Jadi ini akan menjadi kesempatan yang sangat baik untuk saya.

Di sisi lain, saya bersyukur karena disaat saya sedang stres karena masalah akhir-akhir ini, ternyata Allah memberikan hiburan diluar dugaan saya, yaitu kesempatan travelling ke luar negeri. Ini bisa membayar hutang saya #arisanbloggandjelrel dari mbak Muna  Mbak Wuri Yang bertajuk Perjalananan yang paling mengesankan. 

Nah, dari  penugasan ini memberikan banyak pengalaman berharga bagi saya. Salah satunya tentang persiapan yang wajib kita ketahui sebelum bepergian ke Luar Negeri. Kali ini saya merangkumnya ke dalam "5 Hal yang Wajib Dipersiapkan Sebelum ke Luar Negeri", yaitu:

  1. Paspor

Salah satu syarat wajib ke luar negeri yaitu  paspor. Hal pertama yang harus dipastikan yaitu masa berlakunya. Jika masa berlakunya kurang dari 6 bulan, maka pupus sudah harapan ke luar negeri.
Saat proses penugasan kali ini, saya sempat hampir batal karena saya digantikan oleh seorang calon peserta dari wilayah Indonesia Timur. Dari pengurus lebih memilih menugaskan dia karena terkait isu dan pemerataan kesempatan yang biasanya memang lebih diutamakan bagi teman yang dari sana.

Namun, 2 hari menjelang keberangkatan, saya dihubungi kembali. Peserta tersebut gagal berangkat karena masa berlaku paspornya hampir habis. Maka inilah rizki yang telah dituliskan untuk saya. Paspor saya masih berlaku hingga Desember 2018.

     2. Panduan keselamatan dan cerita di imigrasi 



Pengalaman berkesan selanjutnya yaitu cerita di Imigrasi. Sebelun berangkat sebaiknya kita mengetahui negara yang akan kita kunjungi,  salah hal yang penting yaitu panduan keselamatan di negara tersebut. Di lingkungan Red Cross hal terkait keselamatan anggota menjadi salah satu isi dari code of conduct.  Banyak hal yang telah diatur demi keselamatan anggotanya.

Salah satun isi dari kode perilaku itu yaitu berisi daerah mana saja yang dikategorikan aman,  sedang dan rawan.  Daerah yang akan saya kunjungi berada di Manila yang dikategorikan aman.  Info ini sangat oenting untuk saya sampaikan kepada keluarga,  agar mereka merasa tenang. 
Cerita berkesannya, karena pada saat di Imigrasi, sempat tertahan selama 30 menit karena gagal menunjukkan dimana tempat saya akan menginap. Duuuuh, rasanya di aduk-aduk. Hingga akhirnya saya bisa lolos, pengalaman ini akan selalu saya ingat. Pelajaran pentingnya, jangan selalu mengandalkan pada teknologi smartphone. Jika bisa, print langsung.


Foto ini yang sebaiknya saya print, sehingga tidak mengalami kesulitan saat di Imigrasi
Sumber pribadi

Selain itu, hal yang biasa dialami oleh traveller lainnya di imigrasi yaitu tentang pemeriksaan barang, aturan boleh/ tidak boleh mengambil foto, pemeriksaan data pribadi 




3. Makanan dan Ibadah
Menu vegetarian menjadi pilihan yang "aman" bagi Halal Traveller
Sumber : dokumen pribadi


Hal yang tidak kalah penting atau yang paling penting yaitu makanan, terutama jika anda adalah muslim dengan ketentuan halal dan haram. Bepergian ke daerah yang memiliki perbedaan kultur, budaya dan agama membuat kita harus mempersiapkan bekal yang cukup hingga kepulangan. Jika di Indonesia, mencari makanan halal itu adalah hal yang mudah, maka tidak jika di negara lain. Contoh di Manila, makanan halal adalah hal yang cukup langka. Oleh karena itu informasi tentang dimana membeli, produk apa saja yang boleh dimakan akan sangat membantu kenyamanan kita sebagai muslim.

Tips yang jitu biasanya adalah dengan membawa makanan instan yang halal dan mudah diolah, seperti abon, mie instan, sarden kaleng, rendang ataupun srundeng

Demikian juga mengenai ibadah. Bawalah peralatan ibadah yang memadai, karena bisa jadi kita tidak akan mudah mendapatkan masjid ataupun mushola. 

4. Uang
sumber : google image


Tak kalah penting dalam bepergian ke luar negeri adalah uang. Pelajarilah mata uang asing yang berlaku di negara tersebut, berapa kursnya saat ini dan dimana menukarkan uang. Jika memiliki kredit card maka akan lebih baik. Agar transaksi di luar negeri berjalan lancar, kita bisa menghubungi call center bank dengan menginfokan rencana bepergian kita.

5. Sim Card

Berada di negara asing, maka salah satu hal penting yaitu keberadaan kita. Agar tetap terhubung dengan kolega kita, maka sambungan telp, internet amatlah penting untuk diperhatikan. Di negara lain, biasanya memiliki simcard yang berbeda dengan provider di Indonesia. Oleh karena itu, cari informasi bagaimana cara mendapatkan simcard tersebut dan bagaimana mendapatkan kuota data.

Di Manila, sim card yang berlaku yaitu Global dan Smart, dan kita bisa mendapatkannya gratis di bandara dengan memperlihatkan airporttax.

Demikianlah beberapa persiapan perjalanan ke luar negeri yang harus kamu tahu. Semoga perjalanmu menyenangkan ya.


Tidak ada komentar:

Jadikan Hidup Kita Lebih Sehat : Hindari Rokok!

Pertemuan Blogger Semarang dengan Sembutopia "Wolrd No Tobacco Day_2018" Ayah saya (Alm) adalah seorang perokok, perokok ...