Rabu, 07 Juni 2017

Yang Kamu Harus Tahu tentang Bencana, Krisis dan Situasi Darurat (Trauma & Bencana, Bagian 1)

Dampak Bencana
Sumber Gambar : PMI

Pembahasan bencana bukanlah hal yang baru untuk saya. Palang Merah Indonesia membuat saya memahami tentang kejadian ini. Peran sebagai pelatih bidang psikososial mengantarkan saya untuk bertemu dengan para penggiat kemanusiaan, baik itu pemerintah, masyarakat penggiat bencana, lembaga-lembaga kemanusiaan maupun korban bencana. 

Pada tanggal 12 Maret 2017 yang lalu, saya diundang oleh Bengkel Sastra Taman Maluku untung sharing tentang Trauma dan Bencana di sebuah Cafe Buku di komplek Kota Lama Semarang. Penugasan saya di kegiatan yang bertajuk sedekah budaya ini adalah sebagai pelatih bidang PSP mewakili PMI kota Semarang.

E-banner kegiatan sedekah budaya
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi

Sejenak sebelum berbagi ilmu
Sumber Gambar : Dokumen Pribadi


Informasi tentang trauma dan bencana akan saya bagikan dalam tiga bagian di tulisan ini. Semoga bermanfaat. 

Bagian 1 
Tentang Bencana, Krisis dan Situasi Darurat
Memahami tsunami lebih dekat
Sumber Gambar : PMI

Bencana terjadi di sekitar kita, di berbagai belahan dunia. Angka dalam statistik mengenai jumlah kejadian, jumlah korban serta dampak yang ditimbulkan terus meningkat. Untungnya, peningkatan bukan hanya dari jumlah bencana, korban dan dampaknya, tetapi juga perhatian dan dukungan dalam merespon bencana.  Selain peningkatan dana, jumlah lembaga yang terlibat dalam tanggap darrat bencana juga meningkat.

Sejarah bantuan kemanusiaan bisa ditarik jauh ke belakang. Kisah tertua diceritakan di Agama Islam sendiri ketika Nabi Nuh menyelamatkan umat manusia dan makhluk hidup lainnya saat terjadi banjir besar.  Di Indonesia, Pemerintah dan dibantu PMI memiliki peran utama dalam bantuan kemanusiaan. Dalam beberapa tahun terakhir, terutama paska tsunami Aceh, jumlah lembaga kemanusiaan nasional dan lokal bertambah dan sebagian didirikan untuk TDB dan rehabilitasi paska bencana. 

Mereka  yang pernah mengalami penderitaan  yang luar biasa  terkadang mengalami trauma akibat pengalaman tersebut. Kejadian traumatik tidak hanya merubah jalan cerita/ hidup korban (yang nanti akan kita sebut sebagai penyintas), tapi juga kondisi psikologis mereka. Baik itu penyintar bencana alam maupun bencana karena ulah manusia. Ini disebut Helga Mattheß, 2007-Trauma-Aid-Germany sebagai The invisible wound.

Dampak bencana karena ulah manusia, seperti teroris dan perang, akan lebih terasa lebih dalam dan lebih sulit dihadapi karena pelaku masih tinggal dekat dengan survivor- sehingga mereka selalu teringat kejadian masa lalu-dan selalu was-was/ selalu merasa terancam. Meskipun sumber traumanya telah hilang sekalipun, tidak menghilangkan trauma dengan segera. Perbedaannya adalah waktu yang dibutuhkan untuk pulih dari pengalaman traumatis. Di sisi lain, sebagian dari penyintas tidak pernah pulih.

Bagian terpenting bagi bantuan kemanusiaan adalah manusia yang memberikan bantuan kemanusiaan. Mereka bisa relawan, bisa pula staf lembaga kemanusiaan. Semakin lama, kompleksitas bencanca membutuhkan orang-orang dengan latarbelakang pengalaman dan pendidikan yang sesuai. Baik staf ataupun relawan harus memahami, bahwa mereka seringkali merupakan orang dari luar wilayah yang terkena bencana. Tak jarang, masyarakat yang terkena dampak bencana menjadi Objek yang dirugikan. Pemahaman dan penghormatan pada budaya setmpat menjadi penting. Mereka juga harus memahami bahwa ia berada dalam Situasi yang tidak Normal. Ia harus siap melihat reaksi-reaksi yang muncul. Dalam definisi tertentu, reaksi-reaksi penyintas adalah Normal karena berada dalam Situasi yang tidak Normal.

Dampak suatu bencana terhadap kehidupan suatu masyarakat atau komunitas berhubungan dengan kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat atau komunitas itu sendiri maupun mereka yang memberikan dukungan atau bantuan. Keberadaan program-program psikososial menggambarkan pemahaman baru bahwa fakor psikologis juga dipengaruhi oleh faktor sosial. PMI sebagai salah satu organisasi kemanusiaan terbesar di dunia, melaksanakan program ini dalam penanggulangan bencananya.


Apa itu bencana, krisis dan kondisi darurat?



  Bencana 

             
Kerusuhan sebagai contoh bencana sosial
Sumber gambar : PMI
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau non alam maupun daktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis (UU 24/2007).
Bencana merupakan suatu kejadian yang mengganggu kondisi normal dan mengakibatkan tingkat penderitaan yang melebihi kemampuan komunitas yang terkena untuk mengatasinya (WHO, 2002).
Bencana hampir selalu didefinisikan sebagai sesuatu yang buruk (PMI, 2014).Mengakibatkan kerusakan secara luas terhadap kehidupan manusia, materi, ekonomi dan lingkungan yang berdampak pada kemampuan komunitas untuk menaggulangi hal tersebut dengan sumber daya yang masih tersisa.
Dampak Bencana : Fisik, Psikologis, Sosial dan Ekonomi

Krisis


Tidakkah mereka sedang mengalami krisis?
Sumber : PMI
Peristiwa bencana yang menyebabkan kesulitan pada individu, yang melebihi kemampuan untuk meresponnya. Krisis adalah kejadian berbahaya yang dapat berakibat pada individu, group, komunitas atau keseluruha akspek sosial (PMI, 2014). Krisis adalah kondisi tidak stabil yang bisa mengarah pada perubahan yang sigifikan. Situasi krisis itu adalah kondisi darurat, namun tidak semua kondisi darurat adalah krisis.

Setiap krisis akan mengalami 4 fase, yaitu :
a. Kejadian yang terjadi secara cepat
b. Fase Meledak, kehilangan kontrol, perasaan dan perubahan tingkah laku yang tidak pantas
c. Fase stabilisasi

Kondisi Darurat


Kondisi darurat yaitu eristiwa yang tidak terduga (biasanya berkaitan dengan bahaya) yang membutuhkan tindakan segera.




Gambar diatas adalah contoh situasi darurat. Sumber PMI

Lanjut ke 


Sumber :
Bahan Bacaan Manual Dukungan Psikososial, PMI. 2014
Trauma healing beyound intractability, internet
Roan (2003)
Konseling pada anak yang mengalami stres pasca trauma bencana merapi melalui play therapy (Riana Mashar)
Kaplan 1998

4 komentar:

Dewi Rieka mengatakan...

Duh, dengernya aja ngeri pas gempa yogya, tsunami aceh apalagi korbannya..semoga kita semua dilindungi Allah aamiin

Vita Pusvitasari mengatakan...

Semoga kita selalu dalam lindungan Alloh, bencana banjir dan gunung meletus dan longsor lagi menimpa beberapa kota di Indonesia bulan ini, semoga Alloh melimpahkan rahmatnya, dan kita bisa ambil hikmahnya, korban diberi kesabaran dan keikhlasan 😇

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Ngeri melihat dampak bencana, perbanyak istighfar dan sabar yang berlipat bagi korbannya. Moga sabar menerimanya.

Dwi Septianingsih mengatakan...

Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah ya mbaak.. Ngeri lihatnya :")

4 Hal menarik dari Sakura Collagen Anti Age’s dari PT. Meiji

Setiap perempuan pasti ingin tampil cantik di setiap kesempatan. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari perawatan tradisional maupun mo...