Jumat, 09 Juni 2017

5 Hal Tak Terlupakan Bekerja di Palang Merah Indonesia

Mengikuti Pelatihan "Art Therapy" dengan Tim PSP PMI
Sumber : Dokumen Pribadi
Tak terasa air mata menetes, ketika jemariku menari di atas keyboard laptop siang ini. Membenahi kata demi kata, yang mungkin menjadi dokumen terakhirku untuk organisasi ini. Sebuah Surat yang bertajuk permohonan diri.

Yups, life must goon. Saya harus membuat keputusan. Setelah dua tahun masa cuti di luar tanggungan berakhir, saya harus kembali bekerja atau tidak pernah kembali lagi ke kantor itu. Dan demi alasan yang tidak akan bisa disanggah, Saya memutuskan untuk mengajukan permohonan diri. Cerita tentang kenapa Saya memutuskan untuk berhenti sebagai staf PMI ada di sini

Surat resign ini akan segera berangkat esok ke Jakarta.
Itu artinya, jelas sudah, cerita hidupku akan mengarah kemana.

Dengan helaan napas panjang, satu persatu kenangan manis menghampiri. 10 tahun kuhabiskan sebagai pekerja kemanusiaan di PMI Pusat, bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan yang terlewati. Persahabatan, peluang, pengembangan diri, dan kenangan indah lainnya. Pas rasanya jika saya menuangkannya di cerita ini. Rasanya tepat sekali dengan tantangan yang diberikan oleh Mbak Rizka Alyna dan Mbak Alley tentang hal yang kamu kangenin.

Alih-alih meneruskan keheningan berbalut kesedihan, Saya memutuskan untuk memolesnya menjadi kenangan manis yang tak akan terlupakan. Memberi tanda tebal (Bold) pada 10 tahun yang indah di usia dewasa mudaku untuk aktif dan dinamis di organisasi ini. 

Memberinya judul besar “5 Hal Tak Terlupakan Bekerja di Palang Merah Indonesia”. Dan berikut ini adalah diantaranya:

  

  1. Kemanusiaan
Pada tanggal 1 Desember 2005 adalah hari pertama Saya bekerja di PMI Pusat. Salah satu alasan saya bekerja di tempat ini adalah tentang kemanusiaan. Mungkin bisa disebut panggilan hati kali yee. Yang awalnya hanya berkutat di bidang kediklatan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih satu spesialisasi. Saya memilih bidang Dukungan Psikososial sebagai kompetensi teknis. Salah satu pelayanannya yaitu dukungan kelompok atau dulu pernah disebut dengan debriefing. Nyatanya sampai sekarang cinta saya di bidang ini tidak berakhir. Meskipun dalam status relawan, Saya tetap ingin berbagi di bidang ini. Jangan tanyakan kenapa ya?


Tergabung dalam Tim Fasilitator Dukungan Kelompok
TKI Purna Bermasalah dari Sukabumi
Sumber : Dokumen Pribadi


2. Persahabatan

Saya menemukan banyak sekali sahabat di sana. Baik itu sesama staf maupun relawan PMI. Keberadaan saya di organisasi ini seperti terikat dengan komunitas jutaan orang yang mengabdikan dirinya di kemanusiaan. Dan persahabatan ini tak terikat oleh status maupun jabatan. Semuanya sama. Jika jiwamu PMI, kemanapun kamu pergi, kamu akan diterima dengan tangan terbuka oleh sesama orang PMI. Harga persabatan ini tak akan terbeli oleh apapun. 

Salah satu sahabat yang dipertemukan oleh PMI
Sumber : Dokumen Pribadi



3. Pengembangan Diri

Saya harus berterima kasih pada PMI karena diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Psikologi Trauma dan Bencana, UI. Hal ini juga lah yang membuat saya lebih memahami tentang psikososial. Semakin paham, semakin tahu maka semakin cinta. Kalau udah cinta maka gak mau pisah...hadeuh. opo too.
Pokokmen, Saya suka di PMI karena telah mengenalkan pada bidang yang sangat menyenangkan yaitu psikososial. Semoga nanti ada kesempatan untuk memperdalam ilmu ini lagi. Aamiin.
S2 Psikologi Trauma Bencana, UI
Sumber : Dokumen Pribadi

4. Suasana Nyaman Vs Gaji Besar
Umumnya oran bekerja untuk mencari gaji yang besar. Jika tidak cocok, maka mereka akan berpindah ke tempat yang lain. Sehingga terkadang ada yang bekerja seperti kutu loncat, pindah dari satu tempat ke tempat lain. 

Namun, gaji ternyata tidaklah satu-satunya faktor penentu kenyamanan bekerja. Nah, di PMI tentunya bukanlah perusahaan multinasional yang bisa menggaji pegawainya dengan gaji yang besar. Karena organisasi ini bergerak di bidang kemanusiaan. Bukan berarti kemudian menafikkan kewajibannya terhadap pekerjanya. Namun, begitu banyak saksi yang meyakini, kenapa mereka bertahan pada pekerjaan itu dan menafikkan hal seperti gaji, fasilitas kerja dll. Mungkin inilah passion mereka.

Bagi saya sendiri, kenyamanan kerja lebih utama dari sekedar gaji. Di tahun terakhir saya bekerja di PMI, saya sangat beruntung. Kepindahan saya ke UDDP PMI membawa berkah yang luar biasa. Saya memahami tentang donor darah, dan bagaimana mekanismenya. Allah Maha Baik, karena di saat persalinan kembar saya mengalami masalah, dengan HB 6,8 sebuah angka yang sangat kritis dari nilai normal yaitu 12, saya mendapatkan pertolongan dari rekan kerja Saya. Merekalah, teman-teman UDDP PMI, UDD Depok dan RS PMI Bogor yang membantu suami mendapatkan ke-8 kantong darah secara simultan untuk menaikkan HB sehingga saya siap melakukan operasi besar. Darah ini menyelamatkan nyawa saya. Hal ini tidak akan mungkin dapat saya lupakan.

5. Keriuhan


Ini adalah salah satu contoh keriuhan yang saya nikmati selama bekerja di Jakarta. Begitu banyak hal yang bisa menjadi hikmah, termasuk sebagai kommuter. Begitu sebutan bagi pekerja yang menggunakan moda transportasi KRL khususnya rute jabodetabek untuk pulang pergi bekerja. 


Ketika mengalaminya, kita mungkin merasa capek, sebal, dan kemudian stres. Tetapi bertahun kemudian, ternyata hal seperti itu akan kita rindukan. 









Life Must Goon

Hidup memang telah digariskan oleh Allah SWT. Kita tidak akan tahu mengarah kemana atau akan berakhir di mana. Seperti saat ini. Saya tidak pernah membayangkan jika akhirnya harus membuat keputusan seperti ini. Tidak lagi ada canda tawa dengan sahabat PMI di kantor indah itu, tak ada lagi perselisihan yang berbalut keceriaan dan beragam keriuhan itu. Sebuah surat dengan penutup permohonan maaf membalut kenangan itu. 

Meskipun akhirnya cinta tetaplah cinta. Meskipun tidak sebagai staf PMI Pusat nantinya, PMI tetap membuka diri untuk mereka bergabung sebagai relawan. Nah, ini juga buat kamu-kamu yang memiliki kompetensi dan ingin berbagi ilmu dan berbuat baik di bidang kemanusiaan. Kamu dapat mendaftar baik sebagai staf maupun relawan PMI. 

Sebagai relawan, kamu bisa dimobilisasi atas nama PMI untuk melakukan pelayanan di bidang kemanusiaan. Sesuai kompetensi tentunya. Yang penting, tetap berkarya ya.

Berbagi Ilmu tentang Trauma dan Bencana
an. Relawan PMI Kota Semarang
Sumber : Dokumen Pribadi

1 komentar:

gurukecil mengatakan...

hai mbak...rasanya memang sedih ya meniggalkan semuanya. tapi kembali ke pilihan hidup, lepas dari PMI akan ada jalan lain ya mbak untuk kariernya.

Jalan-Jalan ke Madura, Jangan Lupa Nikmati Keindahan Wisata Baharinya

Sumber: compaspetualang.com Kalau ngomong soal Madura pasti teringat dengan satenya. Iya, konon banyak pedagang dari Madura yan...