Selasa, 16 Mei 2017

Permainan Jaman Dulu yang Bikin Kangen Kampung Halaman

Setiap kali teringat masa kecil, pikiran saya melayang ke sebuah dusun terpencil di ujung utara pulau jawa. Sebuah tempat dengan hamparan sawah di hampir penjuru kampung. Dahulu, banyak sekali tempat yang bisa dijadikan area bermain. Aaah, Mbak Anjar dan Mbak Nia membuat hatiku rindu ingin pulang kampung halaman. Hehehe, Alhamdulilah sekarang sudah mendekati musim libur pergantian tahun ajaran, sehingga bisa dipuas-puasin deh napak tilas suasana pedesaannya.


Kampung halaman selalu identik dengan pengalaman masa kecil. Masa-masa yang paling indah. Usia kita masih ingusan dan menghabiskan sebagian waktu di bangku SD. Indah, karena hanya dua hal yang menjadi tugas kita, belajar dan bermain. Apalagi saya, yang lahir diantara ketiga saudara lelaki saya. Ibu tidak pernah memaksa kami untuk melakukan pekerjaan rumah. Pokoknya, pulang sekolah jam 10.00 pagi atau paling lama jam 12 siang, selepas itu ya maiiin. Tidak ada beban kehidupan, seperti urusan ekonomi keluarga, konflik dengan tetangga, kemacetan jalanan maupun serangan virus yang mematikan, haduuuh ngelantur ya. 

Beragam pengalaman seru nan menyenangkan masih membekas hingga sekarang. Tinggal di sebuah desa kecil yang jauh dari hingar bingar perkotaan meninggalkan kenangan yang sungguh manis. Tempat tinggal yang asri, tidak banyak kendaraan yang lalu lalang, lapangan maupun halaman rumah baik punya sendiri maupun tetangga yang luas sebagai arena bermain. Era tahun 80-an (duuh  tutup muka. Ketahuan umurnya!), bisa disebut golden period untuk permainan anak. Yup, ini klaim saya, hahaha. So pasti, generasi angkatan sayapun meyakini kebenarannya. Betapa tidak? Kala itu tersedia beragam jenis permainan unik, menarik dan tentunya  ramah di kantong. Yang pasti, setiap anak yang bermain pasti akan lupa waktu. 

Berikut adalah permainan jaman kecil saya yang tak terlupakan.

1.       Pedang-Pedangan

      
Sumber : http://3.bp.blogspot.com

 Saya berkawan karib dengan permainan maskulin ini. Karena saya minim teman perempuan, dan sehari-hari di rumah bergelut dengan ketiga saudara lelaki saya. Namun semuanya kalah dengan tangisan saya, hohoho. Main pedang-pedangan adalah salah satu permainan favorit kami. Yang dipakai sebagai pedang pun murah meriah dan mudah sekali didapatkan. Cukup sehelai daun pisang yang disisakan tulang daunnya, atau bahasa sederhananya adalah pelepah pisang. Cukup diberi semacam simpul di pangkal pelepahnya maka jadilah pedang. Dengan teknik yang baik, maka bisa dibentuk menjadi pedang kebanggan. 

      Selain dibuat pedang-pedangan, pelepah pisangpun bisa dijadikan pistol-pistolan. Aku inget dulu bapak (Almarhum) suka membuatkan kami pistol-pistolan. Kalau bermain dengan pelepah pisang ini, sudah pasti akan diakhiri diwarnai dengan teriakan dan diakhiri dengan tangisan. Namun setelah itu, tertawa kembali. 


2.       Mencuri Tebu

Sumber : http://www.energitoday.com

Anak-anak memang peniru yang ulung. Begitupun saya. Hamparan berhektar-hektar tebu yang melingkupi kampung kami membawa serta perilaku yang kurang baik. Pencurian tebu. Karena anak-anak baru gedhe banyak yang melakukannya, maka kami anak-anak ingusan pun ikut-ikutan. Mohon maaf, ini memang tidak baik. Dan saya juga sudah bertobat. 

Hampir setiap anak kecil di desa kami pernah mencuri tebu. Kebetulan rumahku letaknya yang terdekat dengan tanaman tebu itu. Sehingga start biasanya dari rumah kami. Meskipun banyak tantangan pada waktu melakukannya, seperti ketahuan mandor tebu, gatal-gatal terkena klobot tebu, panas dan terik di tengah persawahan, namun upaya pencurianpun tetap dilakukan. Hasilnya  bisa jadi satu batang atau bahkan  sepikulan (itupun jika beruntung karena tidak ketemu sama mandor tebu). Jadi kalau sekarang lihat orang jualan es tebu murni yang banyak dijual di pinggir jalan, dalam hati saya tersenyum malu dan mengucap istighfar atas kelakuan masa kecilku

3.       Ngebolang
Sumber : http://4.bp.blogspot.com
Jaman dulu, anak-anak tidak kenal rasa takut untuk bermain jauh dari rumah. Ngebolang adalah pergi menjelajah daerah baru yang tidak dikenal. Misalkan anak sungai maupun gua yang tidak pernah kami kunjungi. Julukan anak keren disematkan bagi dia yang menjadi pioner di daerah baru. Bekal ngebolang hanya sepasang sandal jepit dan sekarung keberanian. Jadi, jangan tanya betapa beraninya anak jaman kami. 



4.       Delik-Delikan
sumber : http://kkcdn-static.kaskus.co.id


Mainan ini semacam main petak umpet jaman sekarang. Cara mainnya sama, yaitu pingsut dari seluruh pemain. Siapa yang kalah maka dia yang “jadi” dan disuruh mencari temannya yang bersembunyi. Untuk memberi waktu temannya bersembungi, maka dia harus tutup mata sambil menghadap ke satu pohon yang dipilih. Biasanya kami menghitung sampai angka 20. Dan kemudian mulailah permainan seru itu. Keuntungan dari permaianan ini, selain badan sehat karena berlari-larian, juga jadi dekat dengan teman. 

Ke-empat permainan ini yang membekas sampai sekarang. Sebagian besar dilakukan di luar rumah. Mengeksplor alam sekitar dan berkawan dengan pemandangan. Makanya, di Indonesia mudik menjadi sebuah budaya. Hal ini bisa jadi karena keterikatan dengan kenangan masa kecil. Seperti yang saya alami. Bagaimana dengan anda?


10 komentar:

Vita Pusvitasari mengatakan...

Kalau aku waktu kecil mainnya sondlah, congklak, ama beklen 😊

Anjar Sundari mengatakan...

Iya rata-rata jaman sd dulu mainnya seperti itu ya mbak. Ngomongin mencuri tebu, dulu saya juga sempat diajak teman-teman untuk mencuri yaitu mencuri buah sawo. Sebenarnya itu sawonya kakek teman saya tapi kakeknya pelit kalau ada yg ambil sawo selalu dimarahi, makanya kami curi atas inisiatif cucunya sendiri, hihi..

Selain itu kadang kami berenang di kolam yang lumayan besar, tapi kalau ketahuan orang tua ya dimarahi :)

Marita Ningtyas mengatakan...

Seru ya masa anak2 kita, belum terpapar gadget. Aku suka main petak umpet, dakon, pasaran, engklek, hehe

Ade UFi mengatakan...

Hahaha.. Ini mainan saya juga wkt kecil, kecuali pedang2an. Aah sayang ya skrg sdh jarang ditemui permainan spt itu lagi. ^_^

Nyi Penengah Dewanti mengatakan...

Aku pernah mencuri tebu mba wkkwwk
aduh kena itu kayak duri2 halus batang tebu, tapi seneng bisa nyesep manisnya tebu.

Diah Indriastuti mengatakan...

delik-delikkan ini petak umpet ya...
seru main ini hihihi
tak terlupakaaan

Ika Hardiyan Aksari mengatakan...

Sekarang kalau mau pakai daun pisang aja harus beli ya, Mbak. Padahal dulu setiap halaman rumah orang ada pohon pisangnya.

Soal delik2an, dulu aku jagonya. Wkwkwkwkw. Soalnya aku kan dulu kecil, item, kalau lari kayak kancil, cepeeeettt banget. Hihihi

rahmamocca mengatakan...

delikan, up2an, betengan, benthik alias luthit. aah permainan yg menyehatkan jiwa dan raga itu. kangen liat anak2 melakukan permainan yg sama. sekarang sdh jarang bgt yaa

Dani Ristyawati mengatakan...

aku dulu suka main suda manda..halma..gobak sodor..sekarang sudah ga pernah liat permainan ini lagi...

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Aku paling kzl klo main thung pet alias delikan itu. Suka ditinggal pulang sama teman soalnya. Sini nyari sampe cape eeehh..dia enak2an tidur di rumah :))

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...