Rabu, 10 Mei 2017

Pelatihan Manajemen Stres pada Komunitas Salimah, Semarang

           


  “Ibu, bagaimana cara yang terbaik ketika saya harus keluar (dari rumah) sedangkan dia telah menyuruh saya pergi dengan cara yang begitu mudah?”. Bunda Inung (bukan nama sebenarnya) bertanya.
               Sejenak, sayapun terdiam. Ada begitu banyak beban diantara senyum dan caranya menatap saya.

              Pertanyaan diatas adalah satu dari beberapa pertanyaan yang saya dapatkan di sesi pelatihan hari ini. Pelatihan tentang “Bersahabat dengan Stres” yang dilaksanakan pada tanggal 7 April 2017. Pelatihan ini adalah satu dari beberapa rangkaian kegiatan dalam pelantikan pengurus baru Salimah kelurahan Ngesrep, Semarang. Acara lainnya  yaitu lomba Asmaul Husna antar majelis taklim, pembagian dorprise dan pelatihan berhijab cantik ala Salimah. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 55 orang pengurus dan anggota Salimah. Tulisan kali ini adalah tentang pengalaman saya sharing di depan mereka. Dengan segala persiapan dan kejutan di dalamnya.


Sebelum pelatihan

                Memang benar adanya jika silaturahmi itu memperpanjang umur dan membawa rizki. Saya sendiri telah mengalaminya. Mendapatkan rizki berkah dari silaturami. Seperti undangan pelatihan ini, saya dapatkan dari pertemanan saya dengan Mbak Ichi. Kami bertemu setiap hari selasa di acara Liqo di perumahan. Mbak Ichi sendiri adalah ustazah kami.  Beberapa kali saya “bolos” menghadiri kajian karena selain karena terkadang ada urusan keluarga, juga sering bertepatan dengan jadwal saya “ngantor” di tempat lain. Akhirnya beliau tahu profesi saya sebagai penulis dan praktisi psikologi.
               Singkat cerita, undangan mengisi pelatihan saya dapatkan via pesan di whatsapp hari Jumat. Dan besoknya saya mengisi jam 10.00 pagi. Ya, semudah itulah Allah memberikan rizki kepada hambaNya.

Dari pengalaman saya mengisi pelatihan, beberapa persiapan yang harus dilakukan jika mengisi di komunitas ibu-ibu muslim, yaitu :
·         Persiapan diri.
Foto bersama pengurus Salimah Ngesrep, Semarang.
Purple Lover

Informasi penting yang saya dapatkan dari Mbak Icie adalah tentang dress code. Kenapa? Ya karena ini komunitas ibu-ibu muslimah. Gak mungkin saya mengenakan baju yang biasa saya pakai ketika mengisi pelatihan di kalangan budayawan. Meskipun saya pun tidak harus berubah menjadi orang lain. Hanya agar bisa nge-blend dan mudah untuk building rapport.





·         Mengenali Audiens
Sebelumnya, saya tidak pernah berhubungan dengan organisasi Salimah. Namun, saya cukup mengamati sahabat saya dan komunitas yang sering dia ceritakan. Selain itu informasi di internet sangatlah membantu, jika kita ingin melihat latar belakang sebuah komunitas. Informasi tentang Salimah bisa dilihat lebih lengkap di  http://www.salimah.or.id/. Hal yang penting juga tentang jumlah audiens. Informasi pertama yang saya dapatkan audiens berjumlah 100an orang. Ini akan berkolerasi dengan persiapan saya selanjutnya yaitu rencana penyajian.

·         Siapkan Rencana Penyajian
Jika pelatih profesional, tentu dia akan membuat RPP (Rencana Pokok Pembelajaran) sebelum melakukan sebuah presentasi. Namun, semakin sering jam terbang kita, kita akan lebih mudah membuat rencana penyajian tanpa terpaku pada formnya. Saya hanya mencatat hal-hal pokok yang menjadi pertimbangan, seperti: Tujuan, Tema presentasi, pokok-pokok materi, bahan pendukung (media), metode, Rencana waktu.

·         Persiapkan materi yang akan disampaikan
Saya mendapatkan informasi, bahwa waktu presentasi adalah 60 menit. Ini menjadi pertimbagan penting dalam hal pemilihan materi yang akan disampaikan. Mengingat jumlah peserta yang relatif banyak, maka saya memilih metode yang umum, yaitu ceramah. Dengan media lcd yang telah disiapkan panitia, maka power point dan film pendek bisa menjadi alat bantu saya nantinya.

Bagi saya, setiap pelatihan adalah pengalaman baru. Meskipun topik yang sama pernah saya bagi melalui siaran radio di Fit Radio.
Bisa dibaca di link berikut

Namun, kali ini tentu berbeda, karena pelatihan tentunya berbeda dengan berbicara di radio. Ada interaksi dan peserta yang membuatnya lebih menarik. Dan bagi saya, pelatihan hari ini jauh lebih menarik karena pesertanya adalah dari muslimah. Artinya, dari sisi kontenpun harus menyesuaikan.

Berikut ini adalah beberapa referensi yang saya baca sebelum merevisi materi presentasi, diantaranya :
1.      La tahzan
2.      Fiqih Wanita
3.      Stres and Burnout
4.      Ten commitment for women
5.      The power of purpose
6.      Mind Healing
Catatan : Buku no 4-6 semua berbahasa Indonesia


·         Siapkan back-up plan
Hal yang penting dalam sebuah sesi pelatihan yaitu rencana cadangan. Kenapa? Karena situasi sulit bisa saja terjadi. Jika pemateri tidak memiliki rencana cadangan maka bisa hancur berantakan. Saya pun akhirnya menggunakan plan b dalam sesi sharing kali ini.

Pelaksanaan

                Saya tiba di tempat kegiatan sekitar 30 menit sebelum waktu pelaksanaan. Kegiatan lomba Asmaul Husna telah selesai dan panitia sedang sibuk membagikan doorprise kepada peserta. Sebuah balai RW menampung para peserta dan panitia dalam kegiatan ini. Cukup luas atau bahkan terlalu luas untuk menampung sebanyak 50 orang peserta. Ketika akhirnya panitia membacakan cv saya, saya masih memikirkan cara yang tepat untuk mengatasi tantangan ini.

Butterfly Hug dengan teknik pernapasan.
salah satu metode untuk relaksasi
                Tantangan? Ya, karena pertama: peserta ternyata hanya 50-an orang dengan kapasitas ruangan yang cukup menampung 300 orang. Kedua, Model ruangan yang terbuka, membuat kemungkinan “noise” ketika ada sesi pelatihan. Ketiga, saya lupa membawa konektor hp ke lcd. Sehingga film pendek yang saya siapkan terancam gagal ditayangkan.
                Tidak kehilangan akal, setelah sesi perkenalan, saya langsung mengajak peserta untuk melakukan ice breaking untuk mengajak mereka konsentrasi. Dan selanjutnya, saya langsung memperkenalkan peserta ke teknik butterfly hug sebagai salah satu relaksasi untuk mengatasi stres. Teknik ini saya padukan dengan iringan lagu Asmaul Husna dari haddad Alwi. Dan Alhamdulillah, cara ini sangat efektif untuk mengatasi keriuhan sebelum sesi sharing dimulai. 

Awalnya panitia hanya memberikan waktu 30 menit karena peserta sudah terlihat lelah. Namun, melihat antusias peserta, sesi sharing berjalan hingga 60 menit. Dan bahkan setelah itu, beberapa orang menghubungi saya pasca kegiatan.


Pasca Pelatihan

Kembali pada kisah Bunda Inung. Di akhir sesi pelatihan saya menghampirinya untuk berbicara lebih banyak. Lalu, apakah saya memberikan solusi untuknya?
Tidak, karena masalah tidaklah diputuskan oleh orang lain. Bunda Inung memiliki kewenangan mutlak untuk mengambil keputusan. Saya hanya memberikan masukan untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum mengambil sebuah keputusan. Mengingatkan agar tidak memutuskan sesuatu dalam keadaan marah ataupun terlalu sedih. Mengingatkan (diri sendiri) untuk mohon petunjuk atas keputusan yang tepat. Karena yang kita kira terbaik, belum tentu yang terbaik menurutNya. Dan solusi tetap harus diambil dengan pertimbangan yang tepat. Dan kemudian panjaaaaang kami mengobrol. 

Jadi, benar kan. Kalau #sharingiscaring


4 komentar:

Untari mengatakan...

Memang sharing itu bisa sedikit mengurangi beban pikiran asal sharing ke orang yang tepat, apalagi perempuan kan gampang galau.hehe

yuliarinta mengatakan...

Terima kasih mbak @untari, iya memang. Saya juga mudah galau. Untung ada medianya, blog salah satunya. Setuju nggak?

Vita Pusvitasari mengatakan...

Wah boleh dicoba nih butterfly hugnya 😊

Hidayah Sulistyowati mengatakan...

Setuju banget, sharing emang bikin lega ya

Jadikan Hidup Kita Lebih Sehat : Hindari Rokok!

Pertemuan Blogger Semarang dengan Sembutopia "Wolrd No Tobacco Day_2018" Ayah saya (Alm) adalah seorang perokok, perokok ...