Jumat, 23 Desember 2016

Selamat Hari Ibu: Perempuan Indonesia, Berbahagialah

Mengawali celoteh saya, saya ingin mengucapkan selamat hari ibu, untuk seluruh perempuan-perempuan hebat di negeri ini. Terutama saya ucapkan untuk Ibunda tersayang, Ibu mertuaku yang baik hati, kakak dan adik ipar perempuanku yang hebat-hebat, sahabat-sahabatku yang luar biasa, teman yang keren-keren dan tak lupa untuk diri saya sendiri.

Mohon maaf, tulisan ini terlambat tayang. Hehe, maklum jadwal liburan padat merayap.
'''

Sederhana saja yang ingin saya sampaikan. Selamat berbahagia menjadi makhluk sempurna yang paling istimewa di muka bumi ini.

Istimewa??
Ya, istimewa karena dia dilahirkan dengan kecantikan yang sempurna. Dianugerahi kelembutan, kelincahan, keanggunan, kepintaran, kekuatan, dan rahim yang darinya terlahir pemimpin-pemimpin dunia.
Istimewa, karena dengan kepintarannya, maka generasi-generasi qur'ani terlahir.
Istimewa, karena dengan pesonanya, dunia pun terhanyut dalam cinta padanya
Istimewa, karena hanya dengan rayuan dan kerling manisnya, amarah sebesar benua pun luluh karenanya.

Bahagia??
Menjadi bahagia, karena kita menjadi bagian dari kaum yang  kuat dan memiliki peran penting. Tidak hanya karena kecantikan fisik tetapi semangat menggelora dalam perjuangan, yang menorehkan arti pada setiap pergerakan.

Jika kita berkenan menengok ke belakang, tepat pada tanggal 22 Desember hingga 25 Desember 1928, para pejuang perempuan Indonesia dari Jawa dan Sumatra berkumpul pada Konggres Perempuan Indonesia yang Pertama. Perempuan terbukti memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tercatat dalam sejarah betapa heroiknya kaum perempuan (kaum Ibu) pada saat itu dalam memperbaiki kualitas bangsa. Dimana perjuangannya antara lain dalam upaya persatuan bangsa; aspek pembangunan bangsa;  perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya. Penghargaan terhadap semangat juang itupun kemudian diabadikan oleh Presiden Soekarno dengan menetapkan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu.


Dan ketika kini, masih saja muncul pemahaman sinis pada peran perempuan. Baik tentang kenapa hanya berperan di ranah domestik, maupun kenapa harus berkecimpung di ranah publik? Tidak mengurusi anak-anaknya sendiri dan malah dititip kepada orang lain, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Silih berganti, bak bertanya duluan mana ayam dan telur. Sungguh sangat disesalkan!

Sayapun mencatat beragam ucapan dari berbagai group sosial media yang saya ikuti. Sebagai perempuan dan seorang ibu, tentunya saya senang jika mendapat ucapan selamat, doa dan harapan yang positif. Namun sayangnya di beberapa tempat masih banyak ungkapan nyinyir dari beberapa orang tentang peran perempuan yang menurutnya tidak berarti karena pilihannya. Contoh, perempuan yang berkarya di arena publik tidak punya hati dan mengabaikan tanggung jawab utamanya terhadap anak-anaknya. Dan, sayangnya yang mempertanyakan itu justru tidak hanya kaum hawa sendiri, terlebih oleh mitra sejatinya yakni, kaum lelaki. Rupanya topik ini tidak akan pernah habis diperbicangkan seperti hanya tentang "Poligami". Yes....tepok jidat bolehlah sedikit.

Beberapa broadcast pertanyaan-pertanyaan itu seolah mengikuti trending topic yang saat ini sedang heboh, "Om telolet, Om.".

Bagi saya sendiri....

Saya memiliki berjuta alasan untuk menjadi perempuan yang bahagia

Saya dipertemukan dengan jodoh, lelaki sederhana namun istimewa (...eeeaaa). Dia memahami bagaimana saya sebagai seorang perempuan memiliki pilihan. Tidak hanya kemudian saya mendapat syurga jika hanya menuruti apa kemauannya. Saya diberikan hak dan keleluasaan untuk membuat keputusan. Di awal karir saya sebagai istri, saya menikmati bagaimana saya bisa membangun karier di luar rumah. Tanpa mendapatkan kekangan ataupun catatan somasi atasnya. Tentunya dengan jalan dari Allah, saya dipilihkan karir yang tidak menimbulkan benturan prinsip dengan keinginan suami.

Pun kemudian, pilihan saya sendirilah yang membuat saya mencoba menjalani karir di dalam rumah. Suami saya kemudian menjadi orang pertama yang mendukungnya, karena dia tahu bahwa saya telah memahami konsekuensi atas keputusan saya itu.

Sukses bukanlah selalu menjadi indikator di dalamnya, namun sebuah kado istimewa ketika saya memberikan usaha terbaik saya untuk orang-orang tecinta.
Karir cemerlang baik di dalam maupun di luar rumah hanyalah sebuah proses
Namun saya bahagia karena saya dikelilingi orang-orang yang memahami saya.
"Empati" adalah sebuah kata yang cukup mewakili di dalamnya

Empati adalah wujud minimal penghargaan lelaki terhadap perempuan. Bagaimana anda, seorang lelaki dapat menjaga hubungan baik dalam interaksi sosial terhadap perempuan. Baik itu istri, ibu maupun sahabat-sahabat anda. Secara langsung maupun melalui media sosial.

Sikap empati lelaki terhadap perempuan tidak akan terasa jika ada sebuah tulisan nyinyir, yang bahkan tidak memperdulikan perasaan ibunya sendiri jika dia menuliskan hal itu. Mungkin, tak sedikitpun dia berpikir adanya "hero" tanpa tanda jasa yang sedang dicacinya atas pilihannya berkarir di luar rumah. Tak sedikitpun dia berpikir atas perasaan orang lain, alasan dan keadaan yang kemudian "memaksa"nya mengerjar karir di luar rumah.

Saya heran dan turut simpati dengan sahabat-sahabat perempuan saya, yang mendapatkan kekangan atas pilihan terbaiknya dalam hidup. Baik oleh pasangan hidup maupun nyinyiran tetangga dunia mayanya. Kenapa masih saja berpikir hanya tentang  batasan dimensi ruang, di dalam dan luar rumah. Tentunya perempuan tetap memiliki kontrol dalam dirinya, dia manusia sempurna, diberikan akal, pikiran bahkan perasaan yang istimewa. Saya yakin, apapun pilihan yang dibuatnya, pastilah atas pertimbangan yang matang.

Contohnya cerita seorang perempuan di belahan dunia timur yang terpaksa menyamar sebagai "Lelaki" ketika bekerja sebagai tukang semir dan pedagang di luar rumahnya untuk menghidupi anaknya hingga anaknya besar dan menikah. Apakah kemudian dia mengabaikan tanggung jawabnya di dalam rumah? Maka setiap orang pasti memiliki alasan sendiri-sendiri ketika dia membuat keputusan. 

Saya sangat senang dengan tulisan teman lelaki saya yang cukup sederhana namun mewakili banyak warna. Dia berkata, "Selamat hari ibu. Ibu sangat mulia. Saya menyadari betapa berat tugas Ibu, setelah saya menjadi suami."

Paling tidak, dia telah memiliki rasa empati dengan mitra sejatinya, perempuan.

Jadi, wahai perempuan tidak ada alasan bagimu untuk tidak bahagia.
Jadilah pribadi yang bahagia, tangguh dan pelopor kemajuan dalam segala lini kehidupan yang kita miliki. Buatlah definisi sukses untuk hidupmu sendiri. Berikan kontrol sepenuhnya atas perasaan dan pilihan yang kou buat.

Karena apapun itu, percayalah, seorang Ibu pasti lebih menempatkan kebahagiaan orang lain atas dirinya sendiri. Makanya, bahkan surga-pun berada di bawah telapak kaki ibu.

Ini ceritaku,
I am very proud of you, Ibuku
Ibuku, single mother with 4 kids dan Aku,
Ibu dengan empat orang anak
Kami bekerja di dalam dan di luar rumah.





8 komentar:

Ety Handayaningsih mengatakan...

Selamat Hari Ibu juga buatmu Mba. Mari berbahagia karena kebahagiaan kita akan menular ke suami dan anak-anak.

Ika Puspitasari mengatakan...

Selamat hari Ibu mbaak, semoga para Ibu di dunia berbahagia

Yuli arinta mengatakan...

Terima kasih mbak.
Yuk tularkan virus cinta pada sesama

Yuli arinta mengatakan...

Terima kasih mbak

Ika Hardiyan Aksari mengatakan...

Hari ibu kali ini aku benar-benar merasakannya, Mbak. Pas libur sekolah eh malah pas banget anakku sakit. Bbeginilah nikmatnya jadi ibu. Lelah tak terasa asalkan anak bahagia. Anak bahagia ibu semakin bahagia.

Arina Mabruroh mengatakan...

Selamat hari ibu Mba..

*telat

prana ningrum mengatakan...

Selamat hari ibu ya mbak...buat ibu2 seluruh indonesia juga

Arie Siregar mengatakan...

Selamat hari ibu mbak, walaupun telat. bagi saya hari ibu itu setiap hari. Hehe.

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...