Minggu, 04 September 2016

Detik-Detik Emas untuk Ibu yang Marah

Adakah yang setuju jika "pengasuhan anak" itu terkadang membuat frustrasi?
Setiap detik menghadapi tingkah polah anak dengan segala kemauan, karakter, sifat dan keunikannya. Berbarengan dengan seubrek bumbu dapur yang belum diramu untuk menjawab teriakan kelaparan penghuni rumah. Belum lagi dengan tagihan-tagihan bulanan yang terus mengikuti kemana si ibu pergi. Layaknya deft collector yang terus membunyikan alarmnya. Plussss....hubungan penuh dinamika si "Rangga dan Cinta" alias bapak dan ibu besar di rumah yang terkadang tidak seindah cerita romansa film india, yang kata sebagian pemujanya"Inilah cinta, deritanya tiada akhir".. 
Dan ketika kenyataan berselingkuh dari keinginan si ibu, dengan segala rupa, maka, 'marah' bisa bermujud menjadi teman si ibu di rumah. 

Di satu peristiwa, satu teriakan anak membuat alarm marah berbunyi 1x. Terus kemudian cibiran anak yang lain membuat anak pertama menaikkan volume teriakannya. Dan terjadilah adu mulut diantara keduanya, Lalu, laksana bom yang pecah di atas genteng rumah. Si ibu siap untuk meluapkan kemarahannya, menghanguskan semua tatanan #positif parenting yang sedang disusunnya berminggu-minggu di rumah.

Bisa jadi teriakan ini hanya pemicu. Dan mungkin saja ibunya sedang "lelah" istilah kekiniannya "nyeri hati". Tapi bagaimana kita menyikapinya jika hal ini kerap terjadi di rumah? Tentunya kita, dan terutama saya, tidak ingin diingat sebagai ibu pemarah. Ibu yang mudah mendaratkan cubitan dan pukulannya pada anak-anaknya.

Sayangnya, ibu adalah guru pertama anak-anak kita.  Artis pujaan mereka. Panutan mereka. Setiap ucapan dan tindakan kita akan ditirunya. Ketika tidak ada seorangpun ibu di muka bumi ini yang tidak pernah marah, maka kita harus memahami bagaimana meramu rasa ini. Sehingga kita bisa menggunakan kemarahan dengan baik. 

  • Apa sih marah itu?  
Sebuah referensi menyebutkan marah adalah emosi sementara yang muncul karena frustrasi, terkadang ditunjukkan dengan agresive dengan melukai seseorang ataupun merusak sesuatu benda.  

  • Bagaimana tanda-tandanya marah?
Ketika ibu marah, tentunya terjadi perubahan dalam dirinya. Baik secara emosional maupun fisik. 
Sering sekali ibu kehilangan kata-kata, disertai peningkatan tekanan darah, jantung berdebar, pusing kepala, dan lainnya. Jika ibu tidak bisa mengelola marahnya dengan baik maka tanda-tanda fisik tersebut bisa berdampak panjang. Misalkan migrain dan bahkan depresi.
  • Apa saja yang bisa menghadirkan kemarahan?
Orang bisa marah karena sesuatu. Bisa saja timbul karena stres, kesedihan, capek fisik maupun kekecewaan atas sesuatu. Satu hal yang perlu kita ketahui. Marah itu normal.Kita perlu memiliki rasa marah ini. Kadang-kadang ini sangat baik untuk menjaga diri. Misalkan saat kita berteman dan ada yang berbuat buruk. Maka kita boleh marah jika yang dia lakukan sudah melanggar kesopanan atau kebenaran.
  • Bilamana "marah" itu diperbolehkan dalam pengasuhan anak?
Banyak literatur yang bisa mengupas hal ini dan setiap orang tua bisa jadi memiliki prinsip yang berbeda dalam menanamkan nilai-nilai bagi anaknya. Tapi bagi saya, marah itu diperbolehkan misalkan jika anak-anak tidak mau menjalankan sholat fardhu. Setelah diingatkan berkali-kali dan kemudian masih saja tidak melakukan, maka kami akan marah. Dengan mengingatkan, menyuruh dan memukul bila perlu #sebatas untuk mengingatkan ibadah, saya rasa itu diperbolehkan. Bahkan itu kewajiban orang tua dalam mengajak anak-anaknya dalam beribadah. 
  • Bagaimana mengelola kemarahan?
Setiap ibu pasti punya cara masing-masing untuk mengelola kemarahannya. Bagi saya, ketika saya masih bisa berfikir maka ada "golden second" atau detik-detik emas ketika rasa marah itu datang. Saya biasanya diam dan mengatur pernafasan saya. Menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkan lewat mulut. Dalam ritme pelan dan tempo selama-lamanya.hehehe. Kenapa? Karena ini memberikan saya "waktu" untuk memilah dan memilih situasi yang terjadi. Apakah ini baik, buruk, benar atau salah untuk marah. Sesudahnya biasanya akan lebih baik, jika saya tidak langsung seketika itu juga meluapkan kemarahan saya. 

Lalu bagaimana jika kemarahan itu sungguh luar biasa tanpa memberikan kita waktu untuk berfikir? Ada satu jalan yang bisa kaum muslimin lakukan. Yaitu beristigfar. Sebuah hadist menyatakan barang siapa memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.  (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas.
Dan yang tidak bisa dihindari, Manusia adalah makhluk fana.
Salah dan dosa adalah sahabatnya
Keyakinan hati dan support dari pasangan, teman bahkan anak-anak adalah pengingat..bahwa ada Tuhan yang menyaksikan semuanya. Berserah diri dan memohon pertolongan itu lebih baik, agar kita terhindar dari kesalahan yang kelak mungkin akan kita sesali.
..................

2 komentar:

pemburudolar mengatakan...

Istighfar di saat marah??subhanallah...
Always Keep istighfar..@embok2 blogger

Kayuni mengatakan...

Hikz...terkadang disitu saya menyesal..astaghfirullah

Jadikan Hidup Kita Lebih Sehat : Hindari Rokok!

Pertemuan Blogger Semarang dengan Sembutopia "Wolrd No Tobacco Day_2018" Ayah saya (Alm) adalah seorang perokok, perokok ...