Jumat, 22 Mei 2015

Aku (tidak) Bisa Mencintaimu Apa Adanya

Judul di atas aku pilih bukan tanpa alasan.
Ini adalah cerita tentang Mutasi---berpindah---dan berubah--


Di perjalanan hidup berkeluarga, berpindah adalah hal yang biasa kami (saya dan suami) alami.
Dari mulai pindah kos-kosan, kontrakan, kemudian rumah pertama terus rumah ke dua.
Ada lagi dari moda transportasi, dari mulai tidak punya alat transportasi, terus berlajut ke sepeda kayuh, kemudian, sepeda motor, terus beruntung ke mobil sedan tua tahun produksi sama dengan kelahiranku, terus ganti lagi ke yang agak-mudaan dan terakhir membeli family car tahun anyar hingga selesai cicilannya.

Tentang pekerjaan juga sama, khususnya aku sendiri, dari sejak kuliah profesi sebagai pengajar les-lesan anak sd-smp, terus panitia di konsultan pelatihan_part timer, terus masuk ke dunia retail, menjadi pegawai kasir hypermarket, menjadi penanggung jawab akuntingnya, terus balik kanan masuk di 0rganisai kemanusiaan, 8 tahun melalang melintang di dunia pelatihan ke seluruh Indonesia, dan kemudian memutuskan pindah_mutasi ke cabang yang lebih dekat dengan rumah dan kini setelah 2 tahun mewarnai kantor baru itu, aku memutuskan untuk full di rumah...
itu adalah bentuk transformasi_ku atas "fleksibilitas"ku dalam menghadapai sebuah perubahan dan perpindahan..

Tapi, aku pun sadar bahwa tiap orang itu berbeda, memiliki sifat, perasaan dan pertimbangan yang tidak sama.
Jika aku bisa begitu mudahnya memutuskan ya, aku akan bisnis ini ...dengan modal hanya 10 juta. Berani memulai bisnis yang bernilai minimal 50 juta dalam waktu 1 minggu..., MAKA berbeda dengan suamiku, sang penyempurna sifatku. 
Dengan ketegasan dan kewibawaan yang dia miliki, ternyata membutuhkan beribu pertimbangan untuk dia sendiri memutuskan mutasi.
Padahal diskusi tentang perpindahan kerja ini sudah mulai kami diskusikan di tahun pertama pernikahan kami. 

Apakah kami akan selamanya tinggal di Jakarta dan menetap untuk berkarir hingga tua di kota ini? 

Waktu itu, kami telah bersepakat, maksimal 10 tahun kami tinggal di Jakarta.
Kini setelah tiba tahun ke-10 di Jakarta, di saat yang pas, aku-pun sudah merasa "cukup" di kota ini, dengan tanggung jawab untuk kembali ke orang tua, akupun menanyakan kesiapannya untuk mutasi.
Tentunya tidak sekedar pindah, tanpa mempertimbangkan peluang dan posisi yang telah dimiliki.

Jauh hari sebelum hari ini, aku telah mendorong dia untuk segera menyelesaikan kuliah s2nya, segera mengurusi persyaratan jabatanya dan syarat yang lain agar dia memiliki bekal yang cukup jika tiba saatnya nanti pindah.

Tidak cukup disitu, aku pun telah mendorong kami untuk berinvestasi properti di kota yang kemungkinan besar akan kami tuju, sebagai kota yang lebih "ramah" agar kami bisa lebih leluasa mengenalkan hidup yang indah dan nyaman kepada ke-4 mutiara hati kami.
Tapi ternyata itupun belum cukup.
Hingga hari ini masih berderet seribu pertimbangan dia untuk sulit :"move on"
Sebagai istri, inginnya semua yang aku inginkan dapat terwujud, tapi tentunya tidak akan bisa, jika itu tidak sesuai dengan keinginannya.
Aku mungkin kebalikan dari lagu tulus...
"Jangan cintai aku apa adanya..."
karena aku suka menuntut,...tapi itu agar kita bisa terus jalan ke depan...

2 komentar:

marsoleh mengatakan...

pelan tapi pasti, semua ada untung ruginya. perlu dihitung matang-matang. Ibarat pemilu 5 menit di bilik suara akan berakibat pada 5 tahun kondisi Indonesia.
Begitu juga kondisi ini. lima menit memutuskan maka 5-10 tahun kedeapn sudah harus siap ditanggung...
Sabar dan ikhlas, jangan sampai tujuan utama perpindahan adalah kepuasan duniawi semata. yang pada kenyataanya hanya semu

yuli arinta mengatakan...

xixixix...as always yank

Jadikan Hidup Kita Lebih Sehat : Hindari Rokok!

Pertemuan Blogger Semarang dengan Sembutopia "Wolrd No Tobacco Day_2018" Ayah saya (Alm) adalah seorang perokok, perokok ...