Minggu, 17 Mei 2015

Apakah Saya BENAR-BENAR telah Berhenti Kerja? (Refleksi diri_ibu tinggal di rumah)

Berhenti kerja di saat posisi-mu sedang "Sangat Baik", dan kamu puas dengan apa yang kamu buat, dengan kesempatan untuk selalu improve dan bertemu dengan banyak orang..trus kemudian menjadi ibu rumah tangga yang 100% tinggal di rumah, dengan hanya mengandalkan 1 pemasukan dari suami, mungkin adalah sebuah pilihan yang sangat sulit, bagaikan terjun bebas tanpa latihan ataupun sertifikasi sebelumnya.

Dan, itulah pilihan yang saya buat. Setelah 10 tahun bekerja, dengan peluang terakhir yang saya dapatkan mampu membuat saya bangga membaca kartu nama saya, saya memutuskan untuk berhenti dan menjadi ibu rumah tangga yang tinggal di rumah.

Saya bahkan tidak memiliki model yang cukup untuk melihat sosok ibu seperti itu. Saya dibesarkan oleh seorang ibu yang luar biasa aktif, dedikasi 100% pada pekerjaan, kehidupan sosial masyarakat dan seribu talenta yang beliau miliki. Almarhum ayah saya selalu bilang, kalau ingin menikah, maka saya tidak perlu kuliah tinggi. Cukup tamat SMA. Dan saya waktu itu memutuskan saya kuliah, di tempat yang jauh, dan membuktikan bahwa saya bisa berkarir dengan baik. Dan sekarang, saya memutuskan mengganti karir saya, menjadi ibu yang tinggal di rumah, dengan menanggalkan gelar pendidikan dan jabatan yang telah saya raih.

Apakah saya menyesal?
Kata yang tepat mungkin adalah frustrasi, jika berhenti bekerja dilakukan selayaknya terjun bebas tanpa parasut. 
Dan jika,,,, indikator frustrasi adalah kenaikan berat badan, mungkin saat ini saya bisa dikatakan mengalami gejala frustrasi.
Tapi, tidak. setelah 1 bulan "di rumah", saya mulai memahami "dunia baru" saya. 
Untungnya, saya termasuk orang yang mudah untuk beradaptasi. 
Saya pernah mengalami hidup susah, bahkan untuk makanpun sulit. Dan saya pernah memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup dan usaha sampingan dengan anak buah yang cukup banyak. Jika harus kembali ke fase hidup susah, saya fikir saya pernah mengalaminya, dan untuk yang ke-2 kalinya, sepertinya tidak akan terlalu sulit.

Jadi menyesal bukanlah sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan saya saat ini.Karena, berhenti bukanlah keputusan dari orang lain/ suami saya. Dengan kesadaran penuh, saya memahami Allah SWT telah memberikan saya anugrah yang luar biasa dengan kehadiran si kembar Shafa Marwa di kehamilan ke-tiga saya. Jadilah, 4 orang the-umar yang cantik-cantik-cantik dan ganteng.

Apakah saya benar-benar berhenti bekerja?
Jika definisi bekerja adalah kegiatan melakukan sesuatu (bbi.web.id/kerja) maka, saya sepertinya tidaklah benar-benar berhenti bekerja.
Saya hanya sedang menata ulang jenis pekerjaan saya.
Jam kerja saya tidak lagi 08.00-16.00, senin sd jumat. Tapi saya bisa melakukan pekerjaan dari jam 24.00-00.00 dikeesokan harinya. Wah kok jadi kedengaran horor ya? Eits maksud saya, bagi anda yang berfikir bahwa menjadi ibu yang berada di rumah akan menjadi membosankan, mungkin anda perlu berfikir ulang seribu kali untuk mengatakannya.
Dengan berhenti_ dari  pekerjaan formal dan masuk ke dalam rumah, sejatinya kita hanya sedang merubah job desk kita, merubah beban kerja dan indikator keberhasilan kita.
Bahkan aktivitas harian bisa jadi masih sama.

Hal yang sama yang saya alami adalah jam tidur malam yang kurang, dengan 2 twin baby yang masih ASI, menyiapkan sarapan dan bekal sekolah 2 anak TK dan SD saya, check agenda sekolah, mendengarkan cerita drama si kakak Za di sekolah, cek email dan sosmed saya,dll.
Yang menjadikannya berbeda adalah...kualitas di setiap aktivitas harian di dalam rumah.
Jika pada saat saya masih di kantor, saya selalu terpacu dengan target-target pekerjaan saya, sesuai dengan rencana-rencana kerja yang telah saya buat,,,untuk kantor. Dan saya memang di bayar untuk itu.

Maka, saat ini, waktu saya menjadi lebih banyak untuk memikirkan strategi agar target-target saya terpenuhi, diantaranya :
- Menjadikan Suami Saya lebih hebat (dengan lebih hadirnya saya dibalik bahunya)
- Menjadikan Kakak Za meningkat harga dirinya (self esteem)
- Menemani kedramaan Mas Al dan membuatnya menemukan jiwa pemenangnya (secara dia agak susah dikendalikan oleh pengasuh-pengasuh saya sebelumnya)
- Menjadi saksi pertama golden period si kembar. Hadir pada saat gigi pertama, kata pertama, langkah pertama, nyanyian pertama dari si kembar Shafa-Marwa
Dan saya dibayar oleh siapa? Oleh saya sendiri. Oleh rasa bahagia saya.
Apakah saya butuh lembur? cuti? hari libur? dan kompensasi pekerjaan lainnya?
Tidak, karena saya melakukannya dengan senang hati.

Self talk saya untuk keputusan saya adalah : Saya merasa pintar karena saya bisa beradaptasi. Itu adalah positive in me yang menguatkan saya atas keputusan yang saya ambil.

Ini adalah kata-kata yang harus dipahami oleh semua ibu, yang berfikir mungkin mereka tidak bisa berhenti bekerja.
Keputusan ada di tangan anda, ingin menorehkan jejak apa dalam kehidupan yang anda miliki.
Sekali ibu, tetaplah seorang ibu. 
Kebahagiaan itu adalah kepastian yang harus kamu pilih.

2 komentar:

Oline mengatakan...

Selamat menikmati profesi barunya ya mba.
Bekerja di rumah berarti mengubah hidup segalanya :)
Dan salam kenal.

yuli arinta mengatakan...

terimakasih mbak oline atas supportnya.
semoga peliaian kinerjaku bagus utuk profesi ini, hehehe.
salam kenal juga ya...

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...