Rabu, 04 Maret 2015

(Memilih) Bahagia dengan (Satu) Istri Tercinta

Semakin maraknya dunia smartphone, semakin memudahkan kita untuk berjejaring social. Bertemu dengan kawan-kawan lama, baik sesama teman SMA, kampus, maupun organisasi sosial. Kemudian yang terjadi adalah saling sharing ilmu, ide bisnis, kenangan indah dan lain-lain. Yang kemudian membuat ramai adalah kemudahan untuk share foto lama, meymey dengan background foto kita/ teman yang kemudian diberi teks di bawahnya.

Di minggu ini, saya mendapatkan  beberapa foto yang tersebar di banyak group medsos yang saya miliki. Menarik, menurut saya. Paling tidak ini menggambarkan banyak orang yang senang dengan isi foto tersebut. Contohnya seperti ini.
  • ·         Foto pertama : Background 2 perempuan cantik (sekali), hijab style, dan message di bawahnya. Abang, jangan lupa sholat ya
  • ·        Foto Kedua : Background 4 perempuan cantik (sekali), hijab style, dan message nikmatnya kalo yang jadi makmum kita seperti ini

Selain kedua foto itu, juga beragam foto dengan message yang hampir serupa yaitu :
  •  Ada perempuan-perempuan cantik, lebih dari Satu
  • Hijab style
  • Disertai messagenya di bawahnya (ingin melindungi, nikmatnya memiliki makmum, dll)

Setiap kali ada foto-foto tersebut terposting, otomatis ramai komentar dari netizen cowok terutama, yang ujung-ujungnya mengarah ke poligami.
Pagi ini, saya mencoba menanyakan kepada suami saya. Kenapa lelaki suka sekali dengan perbincangan seperti itu? Kenapa ADA orang yang iseng, selalu menggunakan model perempuan muslim yang cantik? Dan kenapa poligami menjadi sebuah isu yang sangat menarik untuk diikuti? Terus terang sebagai perempuan, saya ingin mengerti pola berfikir laki-laki kenapa hal ini menjadi menarik untuk mereka.
Jawabnya dengan polos, sepertinya 100% lelaki suka dengan isu poligami. Dan saya jawab, berarti kamu termasuk ya? Dan langsung dijawab, ah nggak 99%, eh salah 100%. Dan langsung pembicaraan pagi ini memanjang karena, meskipun ide ini adalah hal yang iseng, konyol dan sebagainya, saya menangkap adanya interest yang sadar yang berkembang di kepala para lelaki.

Terlepas dari pro kontra perdebatan tentang poligami, baik dari kajian sosial, psikologis dan religi, saya ingin berbagi ide tentang (Memilih) Bahagia dengan (Satu) Istri Tercinta, dengan pertimbangan berikut ini.

a.    100 % I LOVE U FULL
Memberikan cinta yang seutuhnya pada seseorang, yang mana kita bisa menghabiskan sisa hidup kita dengannya, berseteru bersama dalam keindahan, menggali ide yang tidak pernah habis dan (memilih) bahagia dengan (satu) istri tercinta.
Ketika kita jatuh cinta, seluruh perhatian kita tertuju padanya. 100% I love you full memberikan energy, perasaan, dan perilaku kita mengarah pada satu orang. Akan menjadi indah dan merasakan kebahagiaan ketika dia-pun merasakannya. Menjadi peak eksperiens ketika akhirnya kita berkomitmen sehidup semati dengan 100% cinta kita tersebut
b.    Berbuat “Adil” dalam mencintai
Pengalaman berbagi cinta telah saya alami, sangat nyata, ketika saya memiliki anak kembar. Di waktu yang sama, saya harus berbagi ASI, perhatian, kasih sayang untuk mereka. Ketika definisi cinta adalah (selalu) hadir di saat kita membutuhkan, saya (berusaha) hadir untuk mereka berdua. Berbagi cinta yang saya lakukan, ketika saya memeluk Shafa, tangan saya yang lain membelai Marwa. Dan percayalah, berbagi cinta seperti itu tidaklah bisa adil. Meskipun katanya kasih ibu tak terhingga, sepanjang masa, namun di hati kecil saya, saya meminta maaf kepada si kembar, karena perhatian saya terbagi, untuk mereka berdua.
Apalagi jika lelaki ingin membagi cinta (poligami) dengan dasar (katanya) ingin melindungi perempuan cantik yang muda, dengan segala nafsu dan keinginan yang mereka miliki, keadilan itu adalah sebuah esensi yang akan mustahil dapat membawa mereka ke dalam syurga di akhirat.
c.    Poligami atau extramarital?
Serunya ketertarikan lelaki membahas topic cinta dengan banyak perempuan, menurut saya adalah bentuk coping mereka atas keinginan untuk dicintai lebih. Ketika pengalaman cinta pra atau after pernikahan mereka tidak sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, maka pilihan ini kemudian bisa jadi akan diambil.  Sejatinya, lelaki harus hati-hati dengan perasaan ini. Karena bisa jadi bukan ide poligami namun extramarital yang berkembang dalam pikirannya.
Bagi seorang muslim, sangat jelas definisi dan batasan-batasan dari poligami yang pastinya akan berlaku “benar” bagi seluruh makhluk. Namun, keterbatasan manusia, bisa jadi membuat-nya memelintir arti dan kebaikan dari poligami versi Islam. Banyak referensi yang bisa digunakan untuk memperdalam hal ini, jadi tidak akan saya kupas disini.

Lalu bagaimana dengan extramarital? Perilaku extramarital merupakan sebuah pelanggaran terhadap komitmen dan janji pernikahan monogami yaitu dengan menjalin hubungan di luar pernikahan secara diam-diam. Seiring dengan berkembangnya jaman, perilaku ini seolah menjadi wajar dilakukan meskipun bertentangan dengan norma yang ada. 

d.    Tidak (mudah) menyerah untuk bahagia
Manusia terlahir dengan membawa nafsu yang menjadikannya tidak puas dengan segala sesuatu. Sifat negative tersebut terbawa dalam banyak hal. Tak terkecuali dalam percintaan. Maka agama-pun hadir untuk menjadi penerang. Satu hal yang saya yakini, bahwa kebahagiaan itu adalah perasaan yang harus dinikmati. Mencapainya harus diusahakan. Meskipun susah ataupun senang, dengan pasangan yang kita miliki, adanya semangat mempertahankan rasa bahagia dengan (satu) pasangan itu wajib dimasukkan dalam komitmen pernikahan.  Kita pasti paham dalam ilmu pertanian, merawat lebih sulit daripada menanam. Kita bisa mendapatkan bibit yang unggul, tapi kemudian untuk bisa menikmati buah dan daun yang indah, kita harus bisa merawatnya dengan penuh kesungguhan.  Hingga jangan menyerah untuk bahagia (dengan 1 pasangan) adalah satu keniscayaan.

e.    Menikmati perbedaan
Menikah dengan 1 orang, tidak menjamin kita selalu sehati dengannya. Seringkali muncul banyak perbedaan dan sifat negative yang baru diketahui setelah pernikahan. Saya merasa, poligami dengan dasar nafsu adalah bentuk ketidakmampuan manusia dalam menghadapi perbedaan. Padahal, perbedaan adalah sebuah hal yang pasti ada. Kita hanya tinggal menikmati perbedaan tersebut. Hidup tidak selalu harus sama, terkadang harus seperti sepasang sepatu, meskipun tak menghadap ke arah yang sama tetapi selalu bersama menuju ke tempat yang baru. Menikmati perbedaan akan membawa sepatu itu merasakan pengalaman-pengalaman baru yang tidak mungkin akan bisa dialami jika dia memaksa mencari sebelah sepatu yg  sama (sepatu kanan mencari sepatu kanan juga).

Penutup dari saya tentang tulisan ini, (Memilih) Bahagia dengan (Satu) Istri Tercinta bukanlah sebuah coping yang saya buat dari maraknya arus lelaki ingin berpoligami. Sekali lagi itu adalah sebuah pilihan. Meskipun sebuah penelitian membuktikan bahwa lelaki dengan IQ tinggi memilih untuk setia, namun saya yakin bahwa ketika kita telah menemukan sebuah cinta dan kemudian kita diberi kemudahan untuk membuatnya sempurna dalam ikatan pernikahan, bukankah ini adalah sebuah anugrah yang luar biasa untuk selalu dijaga?

Tidak ada komentar:

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...