Jumat, 06 Maret 2015

DIAM itu EMAS dan JEDA adalah CINTA


Hampir 10 tahun menjalani hidup bersama, menyimpan cerita yang unik, menarik dan tidak membosankan untuk dikenang. Ada bahagia, sedih, rindu, galau, patah hati, cemas, penasaran dan beribu judul emosi yang ada. Pernikahan adalah tentang belajar mengenal manusia. Seberapa baik-kah kita sebagai individu dan seberapa pengertian kita untuk berbagi dengan manusia lain dalam dunia bernama rumah tangga.
Berbagi, tidak hanya sekedar fisik, emosi dan perilaku pun menjadi berubah. Kata orang, kalo jodoh maka akan jadi mirip. Baik itu fisik maupun perilaku.
Kenapa mirip, karena kita mencoba memahami dan mencoba menyesuaikan diri.
Dalam hal komunikasi, semakin lama berhubungan dengan pasangan hidup, belum tentu kita bisa melakukan tehnik komunikasi yang benar.
Ketika emosi negative hadir, kadang kala kita lupa untuk bisa berbicara dengan benar dan baik. Ucapan sumpah serapah dengan nada yang tidak bisa dibilang halus pun bisa terlontar secara otamatis.
Namun, komitmen bersama, memberikan kita batasan untuk bisa menghormati pasangan kita.
Minimal itu yang bisa saya rasakan.
Seperti hari kemarin.  Saya dan suami pulang kantor bersama. Awalnya kami bicara ringan tentang berita terbaru yang sedang beredar, mulai dari begal, perbaikan jalan tol, jadwal UTS anak, sampai riuh rendah berita #saveAhok di media. Hingga isenglah saya membuka-buka group chatnya dan menemukan sesuatu yang langsung membuat saya marah. Langsung saja saya melontarkan protes keras karena hal tersebut. Saya ingin memberikan pesan bahwa saya tidak suka dengan apa yang sudah dilakukannya di group chat. Namun, entah kenapa, saya sepertinya tidak menemukan kata yang cukup baik untuk bisa membuatnya mengerti, jika saya benar-benar marah.
KEMUDIAN…
Saya berbicara sambil memberikan jeda. Mencari kata yang tepat, yang baik, menemukan makna yang pas kalo saya itu tidak suka…..(sensor), dan tidak ingin dia mengulangi lagi hal tersebut. Beberapa kali saya berbicara dengan memberikan jeda yang cukup panjang, ketika saya berusaha mengontrol emosi saya. Sedetik saja…dan pada saat saya tidak bisa meneruskan kata-kata….Akhirnya saya memutuskan untuk Diam.
Diam yang cukup lama, dari mulai perjalanan 30menit di mobil, sampai semalaman di rumah dan keesokan harinya.
Tentu saja, hal ini membuat kami sedikit beda. Ciuman, pelukan dan salim yang biasa dilakukan juga jadi agak canggung. Namun hari ke-2, somasi saya membuahkan hasil. Yesss
Suami saya mengucapkan kata sayang, dan minta maaf, memang tidak secara langsung tentang “item” somasi saya, tetapi paling tidak, Diam dan Jeda yang saya lakukan berdampak positif untuk komunikasi kami berdua.
Diam adalah emas dan Jeda adalah Cinta, terbukti nyata dalam hubungan kami.
Dan sekarang, saya menemukan pelajaran baru dalam pola komunikasi kami berdua.


Tidak ada komentar:

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...