Jumat, 16 Januari 2015

Penggunaan kata “JANGAN” pada anak


Ucapan-ucapan anda mencerminkan kekuatan hidup anda (Josep A, 2009).

Kalimat di atas tertulis dalam buku Rahasia di balik kata-kata. Buku ini menjadi referensi saya untuk membuat makalah dalam pelatihan orientasi bagi pegawai baru di kantor saya. Tujuan saya menggunakan buku ini yaitu ingin mencoba memperkenalkan cara berfikir baru kepada para pegawai “baru” (read yang telah bekerja maksimal 5 tahun di kantor) agar mereka mulai membangun kebiasaan positif dengan minimal menggunakan kata-kata positif untuk diri mereka sendiri. Kenapa begitu? Karena ternyata ada banyak manfaat yang bisa didapatkan dengan kita (orang dewasa) menggunakan kalimat positif. Salah satu yang bisa saya cuplik yaitu “ Kata-kata yang diucapkan terhadap diri sendiri ternyata jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang lain”. Pengaruhnya apa? Yaitu motivasi yang bisa kita suntikkan untuk diri sendiri.  Dengan linieritas pikiran, ucapan, perbuatan dan karakter; maka ternyata kata-kata memiliki peran yang tidak bisa dianggap sepele dalam kehidupan manusia. Bagi orang dewasa, kata-kata ternyata dapat mencerminkan karakter orang tersebut.

Nah bagaimana dengan anak-anak? Apa pengaruhnya bagi mereka.
Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Anak-anak ternyata tidak pasif dalam menerima informasi. Di sisi lain disebutkan bahwa anak-anak masih minim pengalaman, dia akan mendapatkan informasi baru melalui ucapak dan perbuatan dari keluarga dan lingkungan yang ada disekitarnya.

Nah pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana mengkomunikasikan pesan dengan baik pada anak sehingga mereka bisa menangkap informasi dengan benar?
Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi berpesan yang perlu diperhatikan: Hindari kalimat negatif yang mengandung kata “Jangan!" karena mereka akan kesulitan dalam menyimpulkan bentuk kalimat negatif. 

Saya mencoba mempraktekkan menggunaan kata Jangan pada para peserta pelatihan saya yang biasanya berusia dewasa dalam sesi ice breaking di hari terakhir pelatihan. Asumsi saya, mereka telah beberapa hari berada di tempat pelatihan, minimal mereka mengetahui mana arah selatan, utara, timur dan barat. Saya minta mereka untuk berdiri dan mengarahkan badan mereka kea rah mana saja yang penting JANGAN ke arah selatan. Apa yang terjadi? Ternyata setiap orang akan menunjuk arah yang berbeda-beda. Dari 20 orang peserta, mereka tidak menunjuk pada arah yang sama seperti yang ada di fikiran saya. Berbeda dengan instruksi ke dua saya., ketika saya minta mereka untuk menunjuk ke arah timur. Kali ini semua orang menunjuk arah yang sama dengan yang ada di fikiran saya.

Hal ini berlaku pula pada anak. Selain mereka memang berada pada periode ingin tahu, penasaran, dan anti dilarang, mereka juga mungkin memiliki persepsi yang berbeda dalam mengartikan kata JANGAN dengan apa yang dimaksud oleh ibu/ayahnya.
Nah, masalahnya. Sebagai mak rempong dengan beribu pekerjaan di rumah. Terkadang kita akan lebih mudah untuk bilang : Jangan teriak-teriak, Jangan main hujan-hujanan, Jangan beli jajan sembarangan, jangan coret-coret di dinding, dll.

Seorang teman pagi ini memberikan alternative keren dalam mengganti kata jangan pada anak, seperti di bawah ini.

Kata JANGAN                   Alternatif Kata JANGAN

Jangan berebut                          Mainnya gantian ya
Jangan berteriak                        Ibu dapat mendengarmu sayang, coba kecilkan suaramu
Jangan memukul teman!               SAyangi temanmu
Jangan lari-larian di rumah           Kalo ingin berlari, kita main di luar saja
Jangan buah sampah sembarangan         Sampahnya masukan ke tempatnya ya
Jangan berkelahi                        Ayo, main sama-sama        
Jangan melawan Ibu!                            Coba dengarkan perkataan Ibu.
Jangan berantakin mainan!           Usai main, kembalikan mainan ke tempatnya ya
Jangan rusak mainan!                  Ingat film Toys? Nah ayo gunakan mainan dengan benar
Jangan loncat-loncat di sofa!       Sofa untuk duduk, sayang. Meloncatnya diluar saja, ya.
Dll

Ekspresi pertama saya ketika baca tulisan ini adalah, wah keren juga tuh. Bisa saya pake di rumah. Tapi pengalaman 8 tahun jadi ibu telah mengajarkan saya bahwa belum tentu apa yang sudah kita pahami dalam mendidik anak, dapat semuanya kita terapkan. Sebagai mak, saya setuju dengan “Hindari menggunakan kata Jangan pada anak”, dengan beribu kali mengingatkan diri sendiri untuk menggunakan kata positif pada anak. Tapi kenyataan kadang berjalan beda.

Pada saat si kembar yang satu pipis, maka saya harus mengganti popoknya, sedang si kembar yang lain sedang nangis minta minum susu. Di waktu yang sama, mas Al (4 tahun) lagi senang-senangnya main air, dan si kakak (8 tahun) lagi suka sama jajanan abang-abang lewat yang saya paling tidak setuju untuk dibeli. (Karena harganya terlalu murah, pastinya gak sehat). Sedetik pasti saya akan teriak, “Mas Al jangan main hujan” dan “Kakak Za, jangan beli jajan sembarangan”. Alih-alih berfikir cari kata positif, dalam keruwetan kejadian yang ada, saya malah akan jadi semakin frustrasi.

Oleh karena itu, saya memilih cara-cara berikut ini :
·      Jangan hujan-hujanan                 : Saya memilih mendesain kamar mandi dengan menggunakan shower, karena saya tahu, kodrati anak-anak suka main hujan. Jadi pas ada hujan, saya akan bilang. Mas, main hujannya di kamar mandi aja sana.
·      Jangan beli jajan sembarangan     : Saya menyetok jajanan sehat di rumah. Dari mulai rebus-rebusan (kadang-kadang) sampai biking macaroni keju, donut homemade, pudding, dll (kadang-kadang juga, hehe)
·      Jangan merusak mainan          : Sama dengan jurus di atas, ttg film toy story. Pada saat di tv lagi nampilin toy story, disitu saya d suami sambil nobar (nonton bareng) bilang, tuh mas kasihan ya mainannya ada yang dikasarin sama yang punya. Kita harus sayang sama mainan. Pas rilex seperti ini, pesan ini akan mudah dimengerti dan diikuti dari pada berteriak-teriak saat mainan di banting.
·      Jangan mencoret-coret dinding    : Saya memasang whiteboard selebar setengah dinding ruang tamu, agar dia bisa bebas mencoret-coret whiteboard itu. Minimal bisa dihapus lagi kalo sudah dicoret-coretin. Tapi percayalah mak, mencoreti dinding itu naluri anak kok. Biarkan saja-lah jika akhirnya mereka nyoret-nyoret lagi. Akhir tahun kita bisa menyuruh mereka mencat rumah kita. Mereka pasti akan senang, dan capek. Begitu tahu kalo ngecat rumah tuh capek, mereka akan “hati-hati” coret dinding kok.

Dan strategi lainnya. Intinya, sebagai mak meskipun rempong, kita harus mengikhlaskan sedikit bila rumah menjadi sedikit kotor, mainan bertebaran di mana-mana, dinding habis dengan goresan gak bertema, bahkan mungkin saling berkelahi sedikit agar mereka bisa belajar cara membela diri, dan yang penting memberi mereka hak mereka untuk bermain.

Bagus lagi kalo kita bisa ikutan mereka main, tapi kalo kita tidak sempat bermain dengan mereka, berikan mereka waktu untuk berekspresi. Yang penting kunci dan komitmen, setelah bermain mereka harus merapikan kembali mainan itu. Sebuah perjanjian juga penting dibuat kepada anak-anak. Seperti hanya sebuah reward dan punishment yang bisa kita sepakati dengan si buah hati.

Jadi selamat berekspresi dan berekplorasi dengan buah hati anda.

5 komentar:

Liswanti Pertiwi mengatakan...

Postingannya bagus dan sangat bermanfaat bagi saya yang seorang ibu.
Salam kenal dan suksea mak.
Liswanti627.blogspot.com

yuliarinta mengatakan...

Trimakasih mbak lisnawati, salam kenal juga ya

Fenny Ferawati mengatakan...

Jadi orang tua memang harus cerdas ya mbak, tipsnya keren

yuli arinta mengatakan...

terimakasih mbak fenny ferawati. salam kenal juga mbak lisnawati

lari astuti mengatakan...

banyak pengalaman hidup yang bisa di petik yah,,,
banyak perjuangan,, itu motivasi buat saya,,bagus bangetssss

Jadikan Hidup Kita Lebih Sehat : Hindari Rokok!

Pertemuan Blogger Semarang dengan Sembutopia "Wolrd No Tobacco Day_2018" Ayah saya (Alm) adalah seorang perokok, perokok ...