Rabu, 29 Agustus 2012

Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak

Hari ini aku terpaksa mengajak Aliandra, yang sekarang berusia dua tahun ke kantor. Masalah klasik yang mendera para keluarga ketika lebaran tiba. Sekolah belum aktif, pengasuh tidak ada. Jadi si anak yang biasa diasuh oleh penasuh atau sibuk bersekolah jadi tidak ada yang menemani. Kebetulan Zahira sudah mulai masuk hari ini, namun Aliandra –TPAnya belum mulai masuk. Plus sebenarnya dia sedang kurang enak badan, agak sedikit demam dan sepertinya mau flu. Akhirnya keputusan membawanya ke kantor dengan segala resiko ketidaknyamanan aku ambil.

Datang di tempat baru dan dipenuhi dengan orang-orang asing tentunya pengalaman yang tidak mudah untuk anak se-usia dia. Di usia seperti ini, si anak biasanya memerlukan waktu untuk bisa “dekat” dengan seseorang. Dan betul juga perkiraanku, yang ada seharian aku tidak bisa memegang pekerjaan sekecil apapun di kantor. Untung saja ini adalah hari pertama masuk setelah lebaran, jadi ibarat mesin baru dinyalakan, belum panas, sehingga masih dimaklumi kalau banyak yang masih santai-santai bersilaturahmi khas lebaran dan bahkan memperpanjang cuti lebaran dengan alasan yang beragam.

Seharian itu aku sibuk menenangkan Al yang sedikit-sedikit nangis dan ngambek karena diledekin oleh teman-teman kantorku. Maklum di kantor ini, mayoritas karyawanannya berusia dewasa yang rata-rata sudah tidak memiliki anak kecil. Sehingga sangat jarang ada anak kecil, gemuk dan menggemaskan seperti Al datang ke kantor. Namun ada hal yang cukup unik yang bisa kulihat dari pengalaman tersebut. Aliandra anak yang termasuk sulit/ difficult dengan karakter khasnya yang suka nangis atau bahkan meraung-raung jika tidak sesuai dengan hatinya. Dari sekian banyak karyawan yang ada, rata-rata dia lebih menyukai untuk bersalaman dan bermain dengan laki-laki dibanding dengan ibu-ibu atau karyawan perempuan. Ada seorang Bapak, rekan kerjaku yang mengajak Al kejar-kejaran, ada juga yang mengajak karate-karatean. Trik tersebut ternyata lebih efektif untuk memenangkan hatinya daripada biskuit coklat lezat yang diberikan cuma-cuma untuknya (hehehe). Cukup menggelitik melihat hal ini.

David R Shaffer dalam bukunya Social and Personality Development (Shaffer, 2005) 5th Edition di halaman 148 menyatakan ayah memiliki peran penting sebagai attachment object. Salah satu peran dari ayah di fungsi keluarga modern yaitu sebagai teman bermain, khususnya jika sang ibu bekerja dan mereka berasumsi harus ada yang menggantikan fungsi caregiver tertentu pada anaknya.  Ditambahkan pula, saat ini peran pengasuhan yang dilakukan ayah telah berkembang tidak hanya sebatas itu, tetapi juga sampai penyiapan kebutuhan anak seperti mandi, diapering and soothing a distress infant.

Peran pengasuhan seperti itulah yang suamiku lakukan pada kedua anak kami, khususnya pada Aliandra. Ini memang permintaanku kepadanya untuk bisa dekat dengan anak-anak. Dan mau tidak mau memang kami berdua harus turun langsung menangani mereka berdua dengan tidak adanya pengasuh di rumah. Dan bagi putra kami, kedekatan dengan ayahnya menjadi sangat penting, khususnya dalam mengeksplore aktivitas fisik seperti berolahraga, bermain layang-layang, dan aktivitas lainnya yang berhubungan dengan alam.

“ Children who are secure with their fathers also display better emotional self-regulation, greater social competencies with peers, and lower problem behaviour and delinquency throughout childhood and adolescence” (Cabrera et al.,2000 dkk dalam (Shaffer, 2005))

Dari pengalaman di atas, kedekatan Aliandra pada ayahnya ternyata berdampak pada preferensi Aliandra dalam memilih “teman dan cara bermain” di kantorku, walaupun dengan usia tidak sebaya dengan dia. Tentunya dengan mengabaikan pernak-pernih tangisan dan raungan khas anak pada periode tantrum yang masih melekat padanya.

Nah pertanyaan selanjutnya apakah kemudian dia hanya mendapatkan sisi maskulin dari pengasuhan ayahnya? Bagaimana dengan peran ibu? apakah juga menjadi tergantikan dengan kedekatannya pada sang Ayah. Tentunya ini bisa menjadi bahan pembahasan selanjutnya.

Yang terpenting adalah, peran ayah itu sangat penting bagi perkembangan anak. Dia tidak lagi berperan minor dalam proses kehadirannya di dunia dan kemudian memberikan pemenuhan kebutuhan fisik melalui pemenuhan kebutuhan sehari-hari bagi sang anak. Namun dia juga menjadi role model yang sangat penting bagi perkembangan sang anak.

Dan untuk suamiku, terimakasih atas kesediaanmu untuk dekat dengan anak-anak kita dan tetap menjadi the best man of our family.
Pagi dini hari, 29 Agustus 2012

Tidak ada komentar:

4 Hal menarik dari Sakura Collagen Anti Age’s dari PT. Meiji

Setiap perempuan pasti ingin tampil cantik di setiap kesempatan. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari perawatan tradisional maupun mo...