Senin, 07 Desember 2009

Pemimpin di Tengah Perubahan

Di tengah suasana yang menuntut suatu perubahan dalam organisasi, diperlukan seorang pemimpin dengan ketrampilan transformasi untuk membangun suasana perubahan yang sesuai misi dan visi organisasi.

Perubahan adalah sesuatu yang pasti bagi manusia, bahkan menjadi salah satu ciri dari kehidupan. Manusia lahir dalam keadaan masih bergantung pada orang lain lalu tumbuh dewasa dan pada akhirnya siap menghadapi tantangan kehidupannya. Begitulah proses perubahan.

Perubahan sering ditandai dengan suatu ketidaknyamanan atas kondisi sekarang. Di lain pihak, perubahan menjanjikan harapan akan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Harapan ini yang membuat orang termotivasi untuk melakukan sesuatu. Meninggalkan kondisi/perilaku yang lama menjadi kondisi/perilaku yang baru.

Dalam berorganisasi, perubahan perlu agar organisasi tidak terjebak dalam kondisi stagnan. Organisasi akan bisa berjalan ke depan jika setiap unsur di dalamnya pun maju. Di PMI, hal ini berlaku bagi relawan, staf dan pengurus. Tentunya untuk memajukan peran dan fungsi PMI sebagai organisasi kemanusiaan. Disinilah diperlukan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan handal. Pemimpin dengan ketrampilan transformasi yang terdiri dari dua hal. Transformasi diri dan ketrampilan untuk berbagi dengan orang lain agar mereka mau mentransformasi diri mereka masing-masing.

Dalam kerangka berfikir perubahan, seorang pemimpin yang bijak akan melihat perubahan sebagai sebuah keniscayaan. Di tengah suasana perubahan ini, seorang pemimpin harus dapat bersikap penuh semangat, mampu memberikan energi positif bagi orang lain, memiliki visi yang kuat, serta mampu mengambil keputusan yang tepat. Terkait dengan ketrampilan transformasi ini, seorang pemimpin harus bisa membangun pribadi-pribadi yang unggul, membangun suasana perubahan, dan melakukan komunikasi yang efektif. Perubahan yang ditampilkan bisa dimulai dengan merubah sikap yang diharapkan akan berdampak pada perubahan perilaku. Misalnya, komitmen untuk loyal kepada organisasi. Dengan menepati komitmen ini, maka perilaku kita cenderung akan mengikutinya.


Peran penting seorang pemimpin dalam perubahan juga pada sikapnya terhadap keberlanjutan programnya. Berjalannya suatu program terkadang karena adanya support dari donor. Dengan berhentinya support donor, maka disitulah perubahan terjadi. Dana program yang semula ada atas dukungan donor misalnya, kini harus dicarikan solusi agar program bisa terus berjalan. Di PMI, ketika program ditinggalkan donor, maka sikap kepemimpinan dari pengurus sangat penting untuk memberi energi bagi seluruh SDM-nya untuk tetap semangat agar mampu berdiri di tengah perubahan yang terjadi. Ketidak-adanya donor juga harus dilihat sebagai suatu peluang dan bukan ancaman bagi organisasi untuk bisa berdiri sendiri. Sikap positif para pengurus akan berdampak positif pada staf dan relawannya untuk bersama mencari inovasi agar program dan organisasi tetap berlanjut. PMI pun akan tetap mampu memberikan pelayanan kemanusiaan yang terbaik kepada masyarakat yang membutuhkan.


*) Tulisan telah diterbitkan Suara PMI, Juli 2009

Tidak ada komentar:

4 Hal menarik dari Sakura Collagen Anti Age’s dari PT. Meiji

Setiap perempuan pasti ingin tampil cantik di setiap kesempatan. Banyak cara yang dilakukan, mulai dari perawatan tradisional maupun mo...