Kamis, 11 Juni 2009

Analisa Sistem Pelatihan PMI dari 3 Perspektif : Filsafat Pendidikan, Behaviorisme dan Postmodernisme, Chapter 1

DAFTAR PUSTAKA

Zainal, Abidin. (2000). Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat. Bandung :
PT Remaja Rosdakarya
Zainal, Abidin. (2009). Bahan Ajar : Filsafat Ilmu Pengetahuan.
Lubis, A.Y. (2004). Setelah Kebenaran dan Kepastian Dihancurkan, Masih Adakah Tempat
Bagi Ilmuwan: Sebuah Uraian Filsafat Ilmu Pengetahuan Kaum Posmodernis. Bogor:
Akademia
Palang Merah indonesia. (2008). Pedoman Pelatihan PMI. Jakarta: Palang Merah Indonesia
Hothersal, David. (2004). History of Psikology (Fourth Edition). New York: The McGraw-Hill
Companies
UU No 2 tahun 1999. Sistem Pendidikan Nasional
http://www.TPers.net. (Minggu, 25 Mei 2009). Pelatihan Versus Pendidikan
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1.A Latar Belakang masalah

Keberhasilan upaya pelayanan kemanusiaan yang dilakukan oleh PMI sangat tergantung pada SDM nya yang berkompeten. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan jumlah staf, relawan dan pengurus yang kompeten adalah melalui pelatihan.

Sebagai organisasi kemanusiaan yang sering menangani bencana, kesiapan SDM menjadi hal yang penting. Pelatihan yang terstandarisasi menjamin peserta latih memiliki kualifikasi yang sama dan standar untuk kompetensi tertentu di tingkat cabang, daerah maupun pusat.

Ada tiga perspektif yang akan dipakai untuk mengkaji sistem pelatihan di PMI yaitu Filsafat Pendidikan, Behaviorisme dan Postmodernisme. Filsafat dengan keunggulan di dalam seni berfikirnya, Behaviorisme dengan mengusung perspektif belajar dan postmodernisme dengan relativisme dan mengusung kearifan lokal yang mampu memunculkan keunggulan dan kompetensi yang diinginkan. Ketiga perspektif ini akan mengkaitkan aktifitas manusia di dalam upaya peningkatan pengetahuan, sikap dan ketrampilannya sehingga dengan memperkaya perspektif pengkajian diharapkan mampu menjelaskan pemahaman tentang sifat, nilai, tujuan, cakupan dan signifikansi pelatihan PMI.

1.B Alasan Pemilihan Aliran

Perspekti Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai. Cara kerja radikal, esensial dan mendalam diharapkan mampu menjelasakan sifat dan nilai dari pelatihan PMI.

Behaviorisme dengan teori belajarnya mampu menjelaskan perubahan tingkah laku manusia yang juga merupakan tujuan dari pelatihan. Behaviorisme memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberikan respon terhadap lingkungan sehingga pengalaman dan pemeliharaan tentang unsur perilaku tersebut akan membentuk perilaku mereka. Prinsip-prinsip ini mampu menjelaskan tujuan dan cakupan pelatihan.

Postmodernisme dengan prinsip relativisme-nya mampu menjelaskan karakteristik dari PMI sendiri yang terdiri dari banyak unsur dan berbagai Daerah di seluruh Indonesia. Hal ini tidak serta merta diikuti dengan kesamaan persepsi pemikiran dari tiap-tiap unsur dan daerah. Masing-masing memiliki kekhasan dan keunggulan yang bisa saja berbeda dengan yang lain. Postmodernisme mampu menjelaskan hal tersebut dan memberikan solusi pemikiran untuk tetap membawa relativisme unsur PMI untuk bisa disatukan dalam kajian pelatihan. Oleh karena itu postmodernisme akan mengungkap signifikansi dari pelatihan PMI.


Tidak ada komentar:

Kaleidoskop 2017 : Sukses itu Senilai dengan Rasa Bahagia.

Sebagai sebuah pengantar, saya adalah seorang wanita dengan berpendidikan S2 dari kampus ternama di Indonesia.  Atas dukungan penuh dar...